NEMUKABAR.COM – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, melanjutkan agenda diplomasi politiknya di Timor Leste dengan melakukan serangkaian pertemuan bersama pimpinan partai politik dan tokoh diplomasi di Dili, Kamis (4/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antarlembaga politik sekaligus mempererat komunikasi antara Indonesia dan Timor Leste yang selama ini memiliki kedekatan historis dan geografis.
Dalam agenda hari kedua kunjungan kerja tersebut, Hasto bersama delegasi PDI Perjuangan melakukan dialog dengan sejumlah pimpinan partai politik utama di Timor Leste, antara lain Fretilin, Partai Demokrat Timor Leste, Partai Pembebasan Rakyat (PLP), serta KHUNTO. Sebelumnya, delegasi juga telah melakukan pertemuan dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta dan berdiskusi dengan pimpinan Partai CNRT.
Selama rangkaian kunjungan berlangsung, delegasi PDI Perjuangan menerima sambutan adat yang mencerminkan penghormatan masyarakat Timor Leste. Salah satunya melalui prosesi pengalungan tais, kain tenun tradisional yang memiliki nilai simbolis sebagai bentuk persahabatan dan penghormatan kepada tamu kehormatan.
“Di kantor Partai KHUNTO, kami disambut meriah dengan tari tarian dan yel-yel dari partai. Kami diberi pengalungan tais dan dihidangkan pinang sirih, sebagai tradisi untuk menyambut tamu. Ternyata banyak dari masyarakat yang hadir yang menyatakan sebagai pengurus maupun simpatisan PDI Perjuangan,” urai Hasto.
Menurut Hasto, suasana yang terbangun selama kunjungan tersebut menunjukkan adanya kedekatan emosional antara masyarakat Timor Leste dengan Indonesia, khususnya dengan PDI Perjuangan. Ia juga menyinggung pesan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengenai pentingnya keberadaan partai politik yang dekat dengan rakyat.
Menanggapi lokasi kantor Partai KHUNTO yang berada di kawasan pinggiran kota, Hasto mengutip pesan Megawati yang menegaskan bahwa kantor partai seharusnya berada di tengah-tengah masyarakat dan menjadi ruang interaksi bagi rakyat.
“Kami merasakan jati diri kami di tengah-tengah simpatisan Partai Khunto,” sebut Hasto.
Ia juga mengapresiasi sambutan yang diberikan berbagai kalangan di Timor Leste. Menurutnya, hubungan kedua negara saat ini telah berkembang menjadi hubungan persahabatan yang kuat meskipun pernah melalui perjalanan sejarah yang penuh tantangan.
“Kami senang dengan sambutan ini. Kiranya hubungan Indonesia dan Timor Leste semakin erat. Meski dahulu punya sejarah kelam tapi bisa melakukan rekonsiliasi yang dikagumi dunia. Kini kedua negara menjadi tetangga dan sahabat baik,” tambah Hasto.
Dalam setiap pertemuan, berbagai isu strategis menjadi topik pembahasan. Mulai dari penguatan sistem demokrasi, kerja sama antarlembaga politik, hingga upaya mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara yang memiliki ikatan sejarah panjang.
“Berbagai isu dibahas, mulai dari penguatan demokrasi, kerja sama antarpartai politik hingga upaya mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara yang memiliki kedekatan sejarah dan geografis,” lanjut Hasto.
Selain membahas hubungan politik kontemporer, Hasto juga menyinggung peran penting Megawati Soekarnoputri dalam proses rekonsiliasi Indonesia dan Timor Leste pasca-kemerdekaan negara tersebut. Menurutnya, sejumlah tokoh politik Timor Leste masih mengingat langkah diplomatik yang dilakukan Megawati saat menghadiri upacara restorasi kemerdekaan Timor Leste pada 20 Mei 2002.
Kehadiran Megawati pada momen tersebut dinilai menjadi simbol penting dalam normalisasi hubungan bilateral yang sebelumnya diwarnai ketegangan akibat konflik dan proses referendum. Langkah tersebut dianggap berhasil membuka ruang dialog dan memperkuat hubungan persahabatan antara kedua negara.
“Dalam pertemuan, kepada kami dijelaskan bagaimana sambutan terhadap Ibu Mega yang luar biasa, dimana rakyat antusias mengelu-elukan Ibu Mega di sepanjang jalan. Ketika semua pemimpin dunia sudah hadir, termasuk George Bush. Ibu Mega datang terakhir, dijemput Xanana sendiri dengan pelukan hangat laksana saudara,” urai Hasto.
Dalam kunjungan tersebut, Hasto didampingi sejumlah pengurus DPP PDI Perjuangan, yakni Ketua DPP Bidang Organisasi Andreas Hugo Pareira, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Andi Widjajanto, serta Direktur Luar Negeri PDI Perjuangan Hanjaya Setiawan.
Mengakhiri agenda hari kedua di Dili, delegasi PDI Perjuangan melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili. Dalam kesempatan tersebut, mereka berdialog dengan Acting Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Dili, Banga Malewa, guna memperoleh informasi mengenai perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste serta berbagai persiapan agenda diplomatik yang akan datang.
Delegasi juga melakukan pertemuan dengan diplomat senior Timor Leste sekaligus Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, Ermenegildo “Kupa” Lopes. Tokoh diplomasi tersebut dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan Megawati Soekarnoputri dan selama bertahun-tahun berperan dalam memperkuat komunikasi antara kedua negara.
Kunjungan Hasto ke Dili merupakan bagian dari agenda koordinasi menjelang kedatangan Megawati Soekarnoputri ke Timor Leste pada Juli 2026 mendatang. Kunjungan tersebut dilakukan atas undangan langsung Presiden José Ramos-Horta.
Dalam agenda tersebut, Megawati dijadwalkan menerima Grand Collar Order of Timor-Leste, penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Timor Leste kepada tokoh yang dinilai memiliki kontribusi besar bagi bangsa dan negara tersebut.
Pemberian penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan atas peran Megawati dalam membangun jembatan rekonsiliasi pascareferendum dan memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Timor Leste. Upaya yang dilakukan pada masa pemerintahannya dinilai menjadi fondasi penting bagi terciptanya hubungan bilateral yang harmonis, produktif, dan saling menguntungkan hingga saat ini.










