NEMUKABAR.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan optimismenya terkait ketahanan energi nasional setelah Indonesia berhasil mengamankan pasokan minyak mentah (crude) dari Rusia. Selain Rusia, pemerintah juga tengah membuka peluang kerja sama serupa dengan sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Bahlil mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut merupakan hasil pertemuannya dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev. Dalam pertemuan itu, Rusia menyatakan kesiapannya untuk mendukung kebutuhan minyak mentah Indonesia.
“Dan ini kita lakukan juga di negara lain, termasuk di Amerika. Kenapa? Dalam posisi geopolitik yang tidak menentu, kita tidak bisa mengharapkan hanya satu negara,” kata Bahlil di kantornya, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber energi guna memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika global.
“Jadi ada sebuah diversifikasi. Jadi Insya Allah crude kita akan semakin membaik,” dia menegaskan.
Menurut Bahlil, kebijakan ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, termasuk dalam sektor ekonomi. Hal itu menjadi landasan pemerintah untuk menjalin kerja sama dengan berbagai negara tanpa bergantung pada satu pihak.
“Saya katakan bahwa Indonesia dalam hubungan global itu menganut politik bebas aktif, tapi juga menganut ekonomi bebas aktif. Itu sebagai konsekuensi daripada sebuah negara yang independen, yang mau berkawan semuanya,” tuturnya.
Ia juga menyoroti kondisi geopolitik global yang saat ini dinilai penuh ketidakpastian. Situasi tersebut membuat banyak negara mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas masing-masing.
“Ini survival mode. Jangan karena kita berbicara tentang harga turun, kemudian kita menggantungkan lagi. Sekarang siapa yang bisa menjamin hari ini harga turun, besok terjadi gejolak apa lagi?” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, Bahlil menekankan pentingnya menjaga kedaulatan energi nasional dengan tidak sepenuhnya bergantung pada negara lain, terutama ketika negara mitra juga menghadapi tantangan domestik.
“Karena kita tidak bisa menggantungkan nasib kita kepada negara lain, orang akan bisa membantu kita ketika dia juga punya kebutuhan (sudah) selesai. Tapi ketika dia punya kebutuhan tidak selesai, bagaimana mungkin membantu kita. Atas arah Bapak Presiden, kami tidak ingin mengambil resiko,” ucapnya.
Sebelumnya, Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah telah memastikan ketersediaan stok minyak mentah nasional hingga akhir tahun 2026. Kepastian tersebut salah satunya diperoleh melalui kesepakatan pembelian crude oil dari Rusia.
Hal ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang membuka peluang kerja sama lebih luas di sektor energi.
“Alhamdulillah cukup menggembirakan, bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia. Juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” kata Bahlil di Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Meski demikian, Bahlil belum merinci volume impor minyak mentah dari Rusia karena masih terikat kesepakatan bilateral. Namun, ia memastikan kebutuhan energi nasional dalam kondisi aman hingga akhir tahun.
“Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember Insyaallah sudah aman. Jadi kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita,” pintanya.
Sebelumnya, pemerintah juga telah melakukan pendekatan diplomatik ke Rusia guna menjaga stabilitas pasokan energi domestik, termasuk BBM dan LPG. Agenda pembahasan mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari suplai minyak mentah, investasi energi, hingga pembangunan infrastruktur seperti kilang.












