Tugas Rapi tapi Sulit Dipertanggungjawabkan, Dosen Soroti
NASIONAL

Tugas Rapi tapi Sulit Dipertanggungjawabkan, Dosen Soroti Ketergantungan Mahasiswa pada AI

×

Tugas Rapi tapi Sulit Dipertanggungjawabkan, Dosen Soroti Ketergantungan Mahasiswa pada AI

Sebarkan artikel ini
Chat GPT dari OpenAI.

NEMUKABAR.COM – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam lingkungan perguruan tinggi terus meningkat. Teknologi tersebut menawarkan kemudahan bagi mahasiswa dalam menyelesaikan berbagai tugas akademik, tetapi pada saat yang sama memunculkan kekhawatiran mengenai potensi ketergantungan yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis.

Fenomena tersebut menjadi perhatian sejumlah dosen di berbagai perguruan tinggi. Laporan Futurism yang dikutip Sabtu (22/8/2026) menyebut para pengajar semakin sering menemukan tugas mahasiswa yang secara struktur terlihat baik, tetapi mahasiswa yang bersangkutan justru mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan gagasan atau mempertahankan argumen yang tertulis dalam tugasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan yang lebih luas daripada sekadar penggunaan teknologi untuk membantu menyelesaikan pekerjaan akademik. Jika AI mengambil alih sebagian besar proses penyusunan gagasan, mahasiswa berpotensi kehilangan kesempatan untuk menjalani proses intelektual yang menjadi bagian penting dari pendidikan tinggi.

Profesor filsafat dari University of Central Arkansas, Kevin Gary, menjadi salah satu akademisi yang menyampaikan kekhawatiran tersebut. Menurut dia, aktivitas menulis memiliki keterkaitan erat dengan proses pembentukan pola pikir seseorang sehingga tidak semestinya hanya dipandang sebagai kegiatan menghasilkan teks.

“Jika menulis adalah berpikir, maka setiap bagian dari perjuangan yang dialihkan ke teknologi berarti melepaskan sebagian kebebasan untuk memahami,” ujarnya.

AI Tak Lagi Sekadar Alat Bantu

Penggunaan AI oleh mahasiswa dinilai telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya teknologi tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki tata bahasa, mencari informasi atau menemukan referensi, kini penggunaannya mulai merambah tahapan yang lebih substantif.

AI dapat digunakan untuk menyusun kerangka tulisan, menghasilkan draf esai hingga membuat ringkasan dari berbagai bahan bacaan. Ketika sebagian besar proses tersebut dialihkan kepada sistem AI, mahasiswa berisiko tidak memperoleh pengalaman yang cukup dalam membangun argumen, menguji informasi, serta merumuskan kesimpulan berdasarkan analisis sendiri.

Dalam konteks pendidikan tinggi, proses tersebut memiliki nilai yang sama pentingnya dengan hasil akhir sebuah tugas. Kemampuan menulis, membaca secara kritis, menganalisis data, serta mempertahankan pendapat merupakan kompetensi yang dibangun melalui latihan berulang.

Meski demikian, kekhawatiran terhadap AI tidak berarti teknologi tersebut secara otomatis menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis. Pemanfaatan AI masih dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembelajaran apabila ditempatkan sebagai instrumen pendukung dan bukan sebagai pengganti proses kognitif mahasiswa.

Mahasiswa Perlu Menentukan Batas

AI dapat digunakan untuk memberikan alternatif ide, menjelaskan konsep yang sulit dipahami, memberikan umpan balik terhadap tulisan, atau membantu mahasiswa mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki. Namun, informasi yang dihasilkan teknologi tersebut tetap perlu diperiksa, dipahami, dan dikembangkan oleh mahasiswa.

Batas penggunaan menjadi persoalan penting karena mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab akademik atas pekerjaan yang mereka serahkan. Penggunaan teknologi secara berlebihan tanpa proses verifikasi dan pemahaman dapat membuat mahasiswa menghasilkan tulisan yang terlihat meyakinkan, tetapi tidak mampu menjelaskan substansinya.

Perdebatan mengenai pengaruh AI terhadap pendidikan juga terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan teknologi tersebut. Sejumlah survei dan penelitian menunjukkan adanya kekhawatiran pendidik terhadap potensi ketergantungan AI, khususnya dalam aspek yang berkaitan dengan kemampuan menulis, analisis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.

Namun, pendekatan yang hanya menempatkan AI sebagai ancaman juga berisiko mengabaikan potensi teknologi tersebut dalam mendukung proses pendidikan. Tantangan bagi institusi pendidikan justru terletak pada bagaimana teknologi digunakan secara proporsional dan bertanggung jawab.

Perguruan Tinggi Perlu Perjelas Aturan

Perguruan tinggi dinilai perlu menyusun kebijakan yang lebih jelas mengenai pemanfaatan AI dalam kegiatan akademik. Regulasi tersebut dapat mengatur penggunaan AI dalam berbagai tahapan pembelajaran, sekaligus memberikan batasan mengenai aktivitas yang harus tetap dikerjakan secara mandiri oleh mahasiswa.

Tujuan kebijakan tersebut bukan semata-mata membatasi akses terhadap teknologi. Sebaliknya, aturan diperlukan agar AI dapat ditempatkan sebagai perangkat yang memperkuat proses pembelajaran tanpa mengambil alih fungsi utama mahasiswa dalam berpikir, menganalisis, menulis, dan memecahkan persoalan.

Dengan pendekatan tersebut, penggunaan AI di lingkungan kampus dapat diarahkan menjadi bagian dari literasi digital dan akademik. Mahasiswa tetap dapat memanfaatkan perkembangan teknologi, tetapi kemampuan intelektual yang menjadi tujuan utama pendidikan tinggi tetap menjadi tanggung jawab mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *