NEMUKABAR.COM – Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui program Maggot Black Soldier Fly, sampah organik rumah tangga diolah menjadi maggot, pupuk organik, serta berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi.
Program yang dijalankan Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem tersebut tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memandang dan mengelola limbah rumah tangga.
Ketua Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem, Riyanta, mengatakan budidaya maggot telah mengubah persepsi warga terhadap sampah organik. Bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari rantai produksi yang memberikan manfaat ekonomi.
“Kini masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, masyarakat juga memperoleh manfaat melalui penghematan biaya pakan, pupuk organik, dan peningkatan pendapatan kelompok,” kata Riyanta, Selasa (25/8/2026).
Dalam pelaksanaannya, rumah maggot di Karangasem mengolah rata-rata 561 kilogram sampah organik setiap bulan. Bahan baku tersebut berasal dari sekitar 60 rumah tangga serta dua pelaku usaha angkringan di wilayah setempat.
Pemanfaatan maggot dalam pengolahan sampah turut menghasilkan residu budidaya berupa bekas maggot atau kasgot serta pupuk organik cair (POC). Kedua produk tersebut kemudian dikembalikan ke sektor pertanian dan menjadi bagian dari siklus pemanfaatan sumber daya.
Pengelolaan sampah melalui metode tersebut diperkirakan mampu mengurangi volume sampah yang berpotensi menimbulkan bau dan pencemaran sekitar 40-60 persen. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut mendorong warga melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Dari sisi produksi, rumah maggot mampu menghasilkan rata-rata 50 kilogram maggot segar setiap bulan. Selain itu, produksi tahunan tercatat mencapai sekitar 420 kilogram bekas maggot dan 540 liter pupuk organik cair.
Hasil budidaya tidak berhenti pada produksi maggot. Seluruh produk dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan peternakan dan pertanian sehingga terbentuk pola ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Dalam satu tahun, sekitar 547,5 kilogram maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele, sementara 730 kilogram digunakan untuk mendukung pakan ayam. Adapun sekitar 420 kilogram bekas maggot dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.
Sebanyak 150 liter pupuk organik cair juga telah dimanfaatkan maupun dipasarkan. Produk-produk tersebut kemudian mendukung kegiatan pertanian masyarakat pada lahan dengan luas sekitar 400 meter persegi.
Integrasi antara pengelolaan sampah, budidaya maggot, peternakan, dan pertanian membuat program tersebut berkembang menjadi sebuah ekosistem produksi. Masyarakat tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memperoleh bahan baku pakan dan pupuk dengan memanfaatkan hasil pengolahan sendiri.
Dampak ekonomi menjadi salah satu hasil yang dirasakan masyarakat dari pengembangan program tersebut. Budidaya maggot kemudian dikembangkan menjadi kegiatan turunan berupa peternakan ayam, pembesaran lele, serta perkebunan.
Dari aktivitas tersebut, penjualan lele dan telur ayam rata-rata menghasilkan pendapatan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Sementara penjualan hasil sayuran memberikan pemasukan sekitar Rp500 ribu per bulan.
Produk kasgot dan pupuk organik cair juga memberikan kontribusi ekonomi. Pendapatan dari kedua produk tersebut tercatat sekitar Rp4,5 juta per tahun.
Selain menghasilkan pemasukan, pemanfaatan maggot sebagai pakan ternak juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pakan komersial. Penghematan biaya pembelian pakan diperkirakan mencapai Rp10,08 juta per tahun.
Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dapat dihitung berdasarkan pendapatan dari penjualan produk. Penghematan biaya produksi juga menjadi komponen penting dalam meningkatkan efisiensi ekonomi masyarakat yang terlibat.
Dari aspek sosial, program Maggot Black Soldier Fly memberikan manfaat langsung kepada sekitar 25-60 orang. Sebanyak 25 anggota masyarakat terlibat sebagai pengelola aktif dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan warga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Sistem pengelolaan yang melibatkan masyarakat sejak proses pemilahan sampah hingga pemanfaatan hasil budidaya membuat program tidak berhenti pada kegiatan pengolahan limbah semata.
Program Maggot Black Soldier Fly tersebut merupakan hasil kolaborasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan program tersebut dirancang untuk menggabungkan penyelesaian persoalan lingkungan dengan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat.
“PLN EPI meyakini bahwa transisi menuju keberlanjutan harus dimulai dari solusi yang dekat dengan masyarakat. Program ini membuktikan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus memperkuat ekonomi sirkular,” ujar Mamit.
Pengalaman di Karangasem menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dikembangkan melampaui pendekatan pembuangan atau pengurangan volume limbah. Dengan teknologi sederhana dan partisipasi masyarakat, sampah organik dapat masuk kembali ke dalam rantai produksi sebagai pakan, pupuk, maupun sumber pendapatan.
Model tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan pada skala komunitas. Ketika residu dari satu kegiatan menjadi bahan baku bagi kegiatan lainnya, manfaat lingkungan dan ekonomi dapat berjalan secara bersamaan.












