Konsumsi Pertalite Melonjak, Bahlil Akan Hitung Potensi Kelebihan
NASIONAL

Konsumsi Pertalite Melonjak, Bahlil Akan Hitung Potensi Kelebihan Penyaluran BBM Subsidi 2026

×

Konsumsi Pertalite Melonjak, Bahlil Akan Hitung Potensi Kelebihan Penyaluran BBM Subsidi 2026

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia

NEMUKABAR.COM – Pemerintah tengah melakukan evaluasi terhadap peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite sepanjang 2026. Kenaikan permintaan tersebut berpotensi menyebabkan realisasi penyaluran melampaui kuota yang telah ditetapkan dalam satu tahun anggaran.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih melakukan penghitungan untuk mengetahui besaran potensi kelebihan penyaluran Pertalite. Fenomena tersebut tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang sebagian beralih dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.

“Kami masih terus menghitung potensi kelebihannya berapa,” ujar Bahlil di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Kementerian ESDM bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencermati peningkatan konsumsi tersebut. Berdasarkan catatan BPH Migas, konsumsi Pertalite pada Juli 2026 rata-rata mencapai 85.589 kiloliter (KL) per hari.

Bahlil menjelaskan pergeseran konsumsi terjadi terutama setelah harga BBM nonsubsidi mengalami peningkatan mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Perbedaan harga yang semakin besar membuat sebagian pengguna kendaraan yang sebelumnya menggunakan Pertamax memilih Pertalite.

“Ketika harga BBM dunia naik, sebagian pengguna RON 92 (Pertamax) beralih mengisi RON 90 (Pertalite), sehingga terjadi peningkatan konsumsi. Namun, angka pasti kenaikannya masih kami hitung,” jelasnya.

Data BPH Migas menunjukkan konsumsi Pertalite pada Juli 2026 meningkat hingga 12 persen dibandingkan periode sebelum terjadi kenaikan harga Pertamax. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang tengah diperhitungkan pemerintah dalam mengevaluasi kebutuhan BBM bersubsidi.

Meski permintaan Pertalite mengalami peningkatan, pemerintah memastikan kebijakan harga BBM bersubsidi tetap dijaga. Bahlil menegaskan harga Pertalite tidak akan dinaikkan hingga akhir 2026, dengan pemerintah tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar energi global.

“Apa pun yang terjadi, harga BBM subsidi—khususnya subsidi—tidak akan kami naikkan sampai Desember 2026, sambil terus memantau dinamika global,” tuturnya.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi akan tetap mengikuti mekanisme pasar. Pemerintah memberikan ruang bagi badan usaha untuk melakukan penyesuaian harga berdasarkan perubahan harga minyak dan dinamika pasar energi internasional.

“Namun untuk harga BBM non-subsidi, kami serahkan ke mekanisme harga pasar. Penyesuaian akan dilakukan mengikuti dinamika yang ada,” lanjut Bahlil.

Disparitas Harga Picu Pergeseran Konsumsi

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menilai perbedaan harga yang cukup lebar antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi menjadi salah satu faktor penting yang mendorong perubahan perilaku konsumen.

Menurut dia, meskipun sejumlah produk BBM nonsubsidi mengalami penurunan harga pada akhir Agustus 2026, selisih harga dengan BBM bersubsidi masih relatif besar sehingga masyarakat tetap memiliki insentif ekonomi untuk beralih ke Pertalite maupun Biosolar.

“Walaupun pada akhir Agustus 2026 terjadi penurunan harga pada kategori Pertamax dan Dex series, disparitas harganya masih tergolong lebar. Hal ini mendorong banyak masyarakat melakukan shifting ke BBM subsidi dan kompensasi negara,” kata Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI.

Wahyudi menjelaskan peningkatan konsumsi Pertalite mulai terlihat setelah terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026. Pada saat itu, harga Pertamax tercatat Rp16.250 per liter, Pertamax Green Rp17.000 per liter, dan Pertamax Turbo Rp20.750 per liter. Sementara harga Pertalite tetap berada di level Rp10.000 per liter.

Perubahan harga tersebut kemudian diikuti peningkatan konsumsi Pertalite. Pada Juni 2026, rata-rata konsumsi harian tercatat meningkat 9,19 persen menjadi 82.760 KL dari sebelumnya 75.795 KL per hari.

Memasuki Juli 2026, laju konsumsi semakin tinggi. Rata-rata penggunaan Pertalite mencapai 85.589 KL per hari atau meningkat 12,92 persen, meskipun harga Pertamax Turbo pada periode tersebut sempat turun menjadi Rp19.300 per liter.

Pada Agustus 2026, konsumsi Pertalite masih bertahan pada level tinggi. Rata-rata konsumsinya mencapai 84.368 KL per hari atau meningkat 11,31 persen. Pada periode yang sama, harga Pertamax turun menjadi Rp15.950 per liter, Pertamax Green menjadi Rp16.600 per liter, sedangkan Pertamax Turbo berada di Rp18.300 per liter.

“Konsumsi Pertalite tercatat naik lumayan tinggi pasca-kenaikan harga BBM non-subsidi,” tambahnya.

Konsumsi di Sejumlah Wilayah Melampaui Alokasi

BPH Migas juga menemukan peningkatan konsumsi Pertalite di sejumlah wilayah yang realisasinya berada di atas alokasi rata-rata harian. Peningkatan tersebut tercatat di berbagai kawasan, mulai dari Sumatra, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku dan Papua.

Meski terjadi peningkatan permintaan di sejumlah daerah, pemerintah memastikan kondisi stok BBM secara nasional masih berada dalam keadaan aman. Ketersediaan pasokan tetap menjadi salah satu aspek yang dipantau untuk menjaga kebutuhan masyarakat.

“Beberapa provinsi memang mencatatkan kenaikan konsumsi, tetapi terkait alokasi kuota yang diberikan, insyaallah masih mencukupi untuk disalurkan kepada masyarakat,” tutup Wahyudi.

Pemerintah selanjutnya akan terus memantau perkembangan konsumsi Pertalite sekaligus menghitung potensi realisasi yang melebihi kuota. Evaluasi tersebut menjadi penting untuk menjaga ketepatan sasaran penyaluran BBM bersubsidi sekaligus mengantisipasi meningkatnya beban kompensasi energi negara akibat pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *