Jakbar Kembangkan Teknologi Eco Lindi, Inovasi Berbasis Air Lindi
REGIONAL

Jakbar Kembangkan Teknologi Eco Lindi, Inovasi Berbasis Air Lindi untuk Kendalikan Bau Sampah

×

Jakbar Kembangkan Teknologi Eco Lindi, Inovasi Berbasis Air Lindi untuk Kendalikan Bau Sampah

Sebarkan artikel ini
Area TPS ilegal di Kampung Turi, Kabupaten Bekasi disegel petugas gabungan dengan memasang garis PPLH serta membentangkan spanduk larangan aktivitas pembuangan di sekitar area.

NEMUKABAR.COM –  Pemerintah Kota Jakarta Barat mulai mengimplementasikan inovasi pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan melalui uji coba penggunaan cairan Eco Lindi di sejumlah titik pembuangan sampah. Program ini diharapkan mampu menjadi solusi alternatif dalam mengurangi persoalan bau tidak sedap yang selama ini kerap muncul di kawasan tempat penampungan sampah sementara.

Langkah tersebut diawali dengan pelaksanaan uji coba di dua lokasi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang berada di wilayah Kecamatan Tambora. Kawasan ini dipilih sebagai lokasi percontohan mengingat karakteristiknya sebagai daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi dan volume produksi sampah yang relatif besar.

Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, mengatakan bahwa penerapan teknologi Eco Lindi merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan perkotaan, khususnya terkait pengendalian dampak negatif dari timbunan sampah.

“Eco Lindi ini menjadi salah satu solusi untuk menyelesaikan persoalan bau. Kita akan lihat dalam beberapa waktu, pastinya ini akan terjadi perubahan yang signifikan, khususnya mengenai masalah bau dan bagaimana kita bisa mengelola sampah dari sumber dengan lebih efektif,” ujar Iin.

Eco Lindi merupakan cairan penetral bau yang dikembangkan melalui proses fermentasi berbagai bahan, termasuk air lindi atau cairan hasil rembesan sampah, molase yang berasal dari air tebu, asam sulfat, serta katalis organik. Formulasi tersebut dirancang untuk membantu mempercepat proses penguraian sampah sekaligus menekan timbulnya aroma tidak sedap.

Menurut Iin, tahap awal implementasi dilakukan di depo sampah yang berada di wilayah Kelurahan Duri Utara. Kegiatan tersebut turut melibatkan pendampingan teknis dari tim yang berasal dari Kabupaten Sidoarjo, daerah yang telah lebih dahulu menerapkan teknologi serupa.

“Uji coba perdana ini dilakukan di depo sampah Kelurahan Duri Utara dengan pendampingan langsung dari tim Kabupaten Sidoarjo,” ucap Iin.

Pemilihan Kecamatan Tambora sebagai lokasi pertama bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Jakarta Barat menilai kawasan tersebut memiliki tantangan pengelolaan sampah yang lebih kompleks dibandingkan wilayah lainnya, baik dari sisi kepadatan penduduk maupun karakteristik limbah yang dihasilkan.

“Tambora memiliki kepadatan penduduk tertinggi dan keterbatasan lahan untuk TPS. Selain itu, Tambora memiliki potensi sampah dari limbah industri konveksi. Jika tidak diolah dengan baik, ini akan menjadi persoalan,” terang dia.

Keberhasilan program percontohan ini nantinya akan menjadi dasar bagi perluasan penggunaan Eco Lindi di wilayah lain. Pemerintah Kota Jakarta Barat telah menyiapkan rencana implementasi bertahap agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih luas dalam mendukung pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan.

“Setelah Tambora, Pemkot Jakbar berkomitmen untuk menerapkan penggunaan Eco Lindi di tujuh kecamatan lainnya secara bertahap, dibarengi dengan koordinasi dan sosialisasi mengenai teknologi tersebut,” jelas Iin.

Sementara itu, penemu Eco Lindi, Rania Naura Anindhita, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari penelitian yang telah dikembangkan sejak masa perkuliahan sekitar empat setengah tahun lalu. Saat ini, teknologi tersebut telah diterapkan di berbagai tempat pemrosesan akhir (TPA) di sejumlah daerah di Indonesia.

“Bahan utamanya adalah air lindi. Tujuannya membuat air lindi yang ramah lingkungan dengan memicu proses katalisis agar sampah tidak bau, tidak menghasilkan gas metana, dan tidak mengundang lalat,” papar Rania.

Menurut Rania, prinsip utama Eco Lindi adalah memanfaatkan limbah cair yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan menjadi bahan yang mampu membantu mengendalikan dampak negatif dari timbunan sampah. Dengan pendekatan tersebut, proses pengelolaan sampah tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga lebih berorientasi pada prinsip keberlanjutan lingkungan.

Ia juga menegaskan bahwa aspek keamanan lingkungan telah menjadi perhatian utama dalam pengembangan teknologi tersebut. Berbagai pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa formulasi Eco Lindi tidak menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem sekitar.

“Untuk keamanannya saya cukup percaya diri karena sudah dipraktikkan. Bahkan saat dieksperimenkan pada tanaman dan kolam ikan, tanaman serta ikannya tidak mati,” pungkas Rania.

Inovasi Eco Lindi dinilai berpotensi menjadi salah satu solusi dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan. Selain mengurangi bau, teknologi ini juga diarahkan untuk menekan pembentukan gas metana yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan di kawasan perkotaan yang memiliki tantangan pengelolaan sampah cukup tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *