Gempa NTT: Kemenkes Kerahkan Dokter Ortopedi dan Bangun
KESEHATAN

Gempa NTT: Kemenkes Kerahkan Dokter Ortopedi dan Bangun Rumah Sakit Lapangan

×

Gempa NTT: Kemenkes Kerahkan Dokter Ortopedi dan Bangun Rumah Sakit Lapangan

Sebarkan artikel ini
Menkes Budi berbincang dengan salah satu pasien yang telah jalani operasi patah tulang di Ruteng, NTT. (Foto: Dok Kemenkes).

NEMUKABAR.COM – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) menyebabkan sejumlah warga mengalami cedera, termasuk Yosef, anak berusia 12 tahun. Yosef mengalami patah tulang paha setelah bangunan rumah tetangganya roboh akibat kuatnya guncangan.

Cedera tersebut membuat Yosef membutuhkan penanganan medis segera. Untuk memperkuat kapasitas layanan kesehatan pascabencana, tim dokter spesialis ortopedi telah dimobilisasi ke RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai. Tim tersebut melibatkan dokter dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya serta tenaga medis dari sejumlah rumah sakit dan institusi pendidikan kedokteran.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kondisi Yosef membutuhkan tindakan operasi agar proses pemulihan tidak menimbulkan gangguan fungsi pada kaki. Menurut dia, penanganan yang tepat juga penting agar Yosef tetap dapat menjalankan aktivitas yang disukainya.

“Kalau tidak dioperasi, nanti sembuhnya bisa cacat. Dia tidak bisa main bola lagi. Padahal dia senang main bola dan ingin menjadi pemain tim nasional,” ujar Budi saat meninjau kondisi Yosef di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, Selasa (18/8/2026).

Budi menjelaskan, kasus patah tulang dan trauma merupakan salah satu jenis cedera yang banyak ditemukan setelah terjadi gempa. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan dokter spesialis, khususnya ortopedi, agar pasien dapat memperoleh diagnosis dan tindakan medis sesuai tingkat keparahan cedera.

Pemerintah juga mengapresiasi keterlibatan sejumlah fasilitas kesehatan dan institusi pendidikan kedokteran yang mengirimkan tenaga medis untuk memperkuat pelayanan di daerah terdampak bencana.

“Kita berterima kasih kepada teman-teman dari rumah sakit yang sudah datang membantu. Ada dari Sardjito, Ben Mboi, Universitas Hasanuddin, dan Rumah Sakit Dr. Soetomo yang khusus membantu di RSUD Ruteng. Para dokter ortopedi ini sudah mau membantu menyembuhkan pasien-pasien yang membutuhkan penanganan,” kata Budi mengutip keterangan tertulis Kemenkes.

Selain memperkuat tenaga medis, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan alternatif untuk mengantisipasi kondisi bangunan rumah sakit yang mengalami kerusakan akibat gempa. Salah satu fasilitas tersebut berupa rumah sakit lapangan yang dibangun di kawasan Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai.

Rumah sakit lapangan itu akan dilengkapi ruang operasi sehingga prosedur bedah tetap dapat dilakukan dengan standar keamanan yang memadai. Keberadaan fasilitas sementara tersebut ditujukan untuk menjaga kesinambungan pelayanan ketika bangunan rumah sakit utama belum sepenuhnya aman digunakan.

Kemenkes juga merencanakan pembangunan rumah sakit lapangan di RSUD Nagekeo. Kedua fasilitas tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap kerusakan fasilitas kesehatan rujukan yang terdampak gempa dan belum dapat beroperasi secara optimal.

“Karena rumah sakitnya sekarang tidak aman digunakan, kita sedang membangun rumah sakit lapangan. Di sana nanti dokter-dokter bisa melakukan operasi dengan baik,” ujar Budi.

Menurut Budi, penanganan kesehatan pascagempa tidak cukup dilakukan dengan memusatkan pelayanan di rumah sakit. Pemerintah perlu memastikan warga yang berada di wilayah terdampak dan sulit mengakses fasilitas kesehatan juga mendapatkan pemeriksaan.

Karena itu, Kemenkes akan memperluas mobilisasi tenaga kesehatan dan relawan untuk melakukan penyisiran kesehatan atau health sweeping. Tim akan bergerak dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga permukiman warga untuk menemukan pasien yang membutuhkan intervensi medis.

Petugas kesehatan akan mendatangi puskesmas dan desa-desa terdampak untuk melakukan identifikasi kondisi kesehatan masyarakat. Pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan akan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan untuk mendapatkan pelayanan maupun rujukan ke rumah sakit.

“Kita perlu sekali mengirim tim relawan ke seluruh puskesmas yang ada di Flores Utara untuk menyapu bersih semua desa, mengidentifikasi pasien-pasien mana yang harus segera kita rawat dan dirujuk ke rumah sakit,” kata Menkes Budi.

Respons tersebut menjadi bagian dari strategi penanganan kesehatan pascabencana yang mencakup layanan trauma, penguatan tenaga medis spesialis, penyediaan fasilitas kesehatan darurat, serta pencarian aktif terhadap warga yang membutuhkan pertolongan. Pemerintah juga perlu memastikan proses pemulihan layanan kesehatan berjalan seiring dengan rehabilitasi infrastruktur di wilayah terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *