NEMUKABAR.COM – Endometriosis merupakan gangguan ginekologi ketika jaringan yang menyerupai endometrium tumbuh di luar rongga rahim. Jaringan tersebut dapat ditemukan di sejumlah lokasi, antara lain ovarium dan tuba falopi, serta dapat menimbulkan nyeri yang intens terutama ketika perempuan mengalami menstruasi.
Pada sebagian pasien, keluhan endometriosis dapat berkembang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu pilihan penanganan pada kondisi tertentu adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat kista atau nodul endometriosis. Perkembangan teknologi bedah kemudian membuka penggunaan teknik robotik untuk membantu dokter menangani jaringan endometriosis yang sulit terlihat atau berada di lokasi anatomis yang kompleks.
Dokter Sita Ayu Arumi SpOG dari Eka Hospital MT Haryono Jakarta menjelaskan bahwa endometriosis tidak selalu tampil dalam bentuk kista yang mudah ditemukan. Jaringan endometriosis dapat tersembunyi dan menginfiltrasi struktur penting di sekitar organ reproduksi.
“Jadi endometriosis itu bukan sekadar ada kista atau ada adenomiosis, tapi sering sekali ada endometriosis yang tersembunyi di dalam. Dia bisa masuk ke pleksus sakral, bisa menekan atau menginfiltrasi saluran ginjal atau ureter, sehingga bisa membuat obstruksi dan akhirnya ginjalnya bengkak. Dia juga bisa menginfiltrasi ke usus,” ujar Sita, dikutip Nemukabar.com, Kamis, (20/08/2026).
Menurut Sita, pengangkatan nodul endometriosis pada lokasi yang berdekatan dengan saraf, ureter, maupun usus membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Kesalahan dalam melakukan diseksi dapat meningkatkan risiko kerusakan pada jaringan atau organ vital yang berada di sekitar area tindakan.
Teknologi bedah robotik dinilai dapat membantu dokter ketika harus melakukan prosedur pada area panggul dengan anatomi yang kompleks. Sistem tersebut memungkinkan operator mengidentifikasi struktur penting sekaligus melakukan pembebasan jaringan secara lebih terkontrol ketika mengangkat nodul endometriosis.
“Dengan bedah robotik ini, sangat membantu supaya kita bisa mengidentifikasi dan membebaskan jaringan-jaringan penting selama kita mengambil nodul endometriosisnya,” kata Sita, yang disebut sebagai perempuan pertama di Indonesia yang mendalami teknologi bedah robotik.
Salah satu faktor pendukung teknologi tersebut adalah sistem visualisasi tiga dimensi pada perangkat bedah robotik da Vinci Xi. Kamera 3D memberikan gambaran area operasi dengan pembesaran sehingga dokter dapat mengamati struktur anatomi secara lebih detail.
Sita menjelaskan, kemampuan visualisasi menjadi aspek penting ketika dokter bekerja pada ruang operasi yang sempit atau menghadapi kondisi jaringan yang bercampur dengan darah. Dalam situasi tersebut, penglihatan langsung manusia memiliki keterbatasan, terlebih ketika prosedur berlangsung dalam waktu panjang.
“Ternyata tetap pakai kamera lebih unggul. Kenapa? Karena mata kita punya keterbatasan. Kalau sudah organnya campur darah, terus dia agak sudutnya sempit, mata kita itu tidak bisa awas. Apalagi kalau operasinya mungkin sudah lebih satu jam, lebih dua jam,” tutur Sita, yang pernah mengikuti fellowship bidang bedah robotik di Belanda.
Selain aspek visualisasi, bedah robotik menggunakan sayatan berukuran relatif kecil, yakni sekitar 0,8 hingga 1 sentimeter. Teknik tersebut memungkinkan dokter mengakses area panggul dengan instrumen berukuran kecil dan melakukan tindakan secara lebih presisi.
Dari sisi pemulihan, bedah robotik juga disebut berpotensi memberikan tingkat nyeri pascaoperasi yang lebih rendah dibandingkan laparoskopi konvensional. Meskipun ukuran sayatan pada kedua metode relatif sama, perbedaan utama terletak pada karakteristik pergerakan dan kestabilan instrumen selama prosedur.
“Walaupun sama-sama lukanya ukurannya sama, tetapi untuk pain itu jauh lebih bermakna less pain di robotik. Kenapa? Karena dia stabil,” ujar Sita.
Ia menjelaskan bahwa pada laparoskopi konvensional, instrumen dapat mengalami pergerakan maju-mundur atau bergeser ketika dokter melakukan manuver. Gerakan tersebut berpotensi menyebabkan gesekan pada dinding perut selama operasi.
“Saat kita bekerja, tanpa sadar trokarnya itu bisa maju-mundur, gesekan, maju-mundur, karena pada saat alat kita bergerak, dia akan geser. Nah, gesekan itu ternyata bisa menimbulkan iritasi di dinding perut,” jelasnya.
Berbeda dengan laparoskopi konvensional, sistem robotik menggunakan konsep pivot point pada trokar. Mekanisme tersebut menjaga instrumen agar tetap lebih stabil terhadap dinding perut selama dokter melakukan tindakan, sehingga gesekan dan iritasi pada area tersebut dapat diminimalkan.
Meski demikian, pemilihan metode operasi untuk endometriosis tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Lokasi lesi, tingkat infiltrasi jaringan, keterlibatan organ lain, kondisi pasien, serta pertimbangan klinis dokter menjadi faktor yang menentukan pendekatan penanganan.
Endometriosis sendiri merupakan kondisi yang dapat memiliki manifestasi beragam. Karena itu, diagnosis dan penanganan memerlukan evaluasi medis secara menyeluruh, terutama ketika gejala telah mengganggu aktivitas atau ditemukan keterlibatan organ di luar sistem reproduksi.
Perkembangan teknologi bedah robotik memberikan salah satu alternatif dalam penanganan kasus endometriosis kompleks, terutama ketika dokter membutuhkan visualisasi yang lebih baik, instrumen yang stabil, dan presisi tinggi untuk bekerja di area anatomi yang sulit dijangkau.












