NEMUKABAR.COM – Rangkaian gempa susulan kembali terjadi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026) pagi. Salah satu guncangan dengan magnitudo 5,6 dirasakan cukup kuat hingga memicu kepanikan warga yang masih bertahan di tenda darurat pascagempa utama.
Warga Reo, Manggarai, Baria mengatakan guncangan yang terjadi pagi itu terasa kuat meski intensitasnya masih berada di bawah gempa utama yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026).
“Gempa besar lagi ini. Kami langsung lari keluar,” kata Baria dikutip Nemukabar.com dengan nada panik.
Rangkaian gempa yang terus terjadi juga menambah tekanan psikologis bagi warga terdampak. Baria mengaku ketidakpastian kapan guncangan berikutnya terjadi membuat dirinya semakin khawatir dan kesulitan menentukan lokasi yang dianggap aman untuk berlindung.
“Ya Allah, kapan gempa ini selesai. Kami tidak tahu harus lari ke mana,” ucapnya.
Kepanikan serupa dirasakan warga lainnya yang berada di wilayah terdampak. Seorang warga berinisial Y mengatakan tubuhnya langsung bereaksi ketika merasakan getaran gempa pada Kamis pagi.
“Semua badan gemetar, serasa tak bertulang, lemah sekali,” ujarnya.
Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sedikitnya tujuh aktivitas gempa tercatat di kawasan Manggarai hingga pukul 07.15 WIB. Gempa dengan magnitudo terbesar terjadi pada pukul 05.45.19 WIB dengan kekuatan magnitudo 5,6.
BMKG mencatat episentrum gempa M5,6 tersebut berada di darat, sekitar 37 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai. Gempa tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer dan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah.
Guncangan M5,6 tercatat mencapai intensitas V-VI MMI di Kabupaten Manggarai. Getaran juga dirasakan dengan intensitas IV MMI di Kabupaten Nagekeo, III-IV MMI di Kabupaten Manggarai Barat, serta III MMI di Kabupaten Sikka, Kota Bima, dan Kabupaten Bima.
Sebelum gempa terkuat tersebut terjadi, aktivitas seismik telah tercatat sejak dini hari. Gempa pertama berlangsung pada pukul 02.11.18 WIB dengan magnitudo 4,2 dan kedalaman 7 kilometer. Episentrumnya berada di laut sekitar 47 kilometer utara Ruteng-Manggarai dan dirasakan III MMI di Kabupaten Manggarai.
Aktivitas kedua tercatat pada pukul 04.35.34 WIB dengan magnitudo 4,4 dan kedalaman 5 kilometer. Pusat gempa berada di laut sekitar 47 kilometer utara Ruteng-Manggarai dan getarannya dirasakan III MMI di Kabupaten Nagekeo.
Selanjutnya, pada pukul 04.43.38 WIB terjadi gempa magnitudo 4,4 dengan kedalaman 8 kilometer. Episentrum berada sekitar 50 kilometer utara Ruteng-Manggarai. Guncangan dirasakan II-III MMI di Kabupaten Manggarai dan II MMI di Kabupaten Nagekeo.
Tidak lama kemudian, gempa keempat tercatat pada pukul 05.28.10 WIB. Gempa berkekuatan magnitudo 4,8 tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer dengan pusat gempa di darat, sekitar 34 kilometer timur laut Ruteng-Manggarai. Guncangan dirasakan III-IV MMI di Kabupaten Manggarai.
Sekitar 17 menit setelahnya, gempa terbesar dalam rangkaian tersebut terjadi. BMKG mencatat gempa pada pukul 05.45.19 WIB berkekuatan magnitudo 5,6 dengan kedalaman 10 kilometer dan episentrum sekitar 37 kilometer timur laut Ruteng-Manggarai.
Setelah gempa M5,6, aktivitas seismik kembali tercatat. Gempa keenam terjadi pukul 05.55.49 WIB dengan magnitudo 4,2 dan kedalaman 6 kilometer. Episentrum berada di darat sekitar 32 kilometer timur laut Ruteng-Manggarai dan dirasakan II MMI di Kabupaten Manggarai.
Gempa ketujuh kemudian terjadi pada pukul 06.20.13 WIB dengan magnitudo 4,5. Gempa tersebut memiliki kedalaman 3 kilometer dan berpusat di laut sekitar 39 kilometer utara Ruteng-Manggarai. Getarannya dirasakan II MMI di Kabupaten Manggarai.
Rangkaian aktivitas tersebut terjadi ketika masyarakat Manggarai masih menghadapi dampak gempa utama yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Kondisi itu membuat setiap guncangan susulan berpotensi memicu kembali kekhawatiran warga, terutama mereka yang masih tinggal di tenda darurat karena kondisi rumah atau bangunan yang belum sepenuhnya aman.
Dengan masih berlangsungnya aktivitas gempa, masyarakat di wilayah terdampak perlu tetap memperhatikan informasi resmi dari BMKG dan mengikuti arahan petugas kebencanaan setempat. Warga juga perlu menghindari bangunan yang mengalami kerusakan dan memastikan jalur evakuasi tetap dapat digunakan apabila terjadi guncangan kembali.












