NEMUKABAR.COM – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia memastikan hingga saat ini tidak terdapat warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gelombang panas ekstrem atau heatwave yang tengah melanda sejumlah negara di kawasan Eropa. Meski demikian, pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi melalui seluruh perwakilan diplomatik Indonesia di berbagai negara terdampak.
Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan koordinasi dengan kedutaan besar dan kantor perwakilan Indonesia di Eropa terus dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan keselamatan WNI yang berada di wilayah tersebut. Selain memantau kondisi lapangan, perwakilan RI juga telah mengaktifkan layanan darurat bagi masyarakat Indonesia yang membutuhkan bantuan.
“Terkait dengan heatwave di Eropa, kita sudah berkomunikasi dengan perwakilan-perwakilan kita di sana dan sampai saat ini belum ada WNI yang terdampak, yang menjadi korban. Namun demikian, semua perwakilan di Eropa membuka hotline dan juga menyampaikan kepada para WNI untuk waspada dan melakukan langkah-langkah agar tidak terlalu terdampak dengan kondisi panas ekstrem,” kata Heni kepada awak media di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Gelombang panas yang terjadi pada awal musim panas tahun ini telah mendorong suhu udara di sejumlah negara Eropa mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah pencatatan. Kondisi cuaca ekstrem tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengganggu layanan transportasi, infrastruktur publik, hingga meningkatkan angka kematian di berbagai negara.
Pada 28 Juni 2026, suhu udara di sejumlah wilayah Jerman, Republik Ceko, dan Polandia dilaporkan menembus angka 40 derajat Celsius. Fenomena tersebut kemudian bergerak ke kawasan Eropa Timur pada 29 hingga 30 Juni dan memicu rekor suhu tertinggi baru di Slovakia serta Hungaria.
Berdasarkan laporan badan meteorologi nasional yang dikutip Channel News Asia, wilayah Kamenica nad Hronom di Slovakia mencatat suhu maksimum mencapai 41,3 derajat Celsius. Sementara itu, wilayah Szécsény di Hungaria mengalami suhu hingga 42 derajat Celsius. Lonjakan temperatur tersebut turut memicu gangguan pasokan air bersih akibat kekeringan berkepanjangan dan meningkatnya konsumsi air masyarakat.
Dampak serius juga terjadi di Prancis. Setelah beberapa hari mengalami suhu rata-rata sekitar 29,8 derajat Celsius, bahkan mencapai 44 derajat Celsius di salah satu wilayah, negara tersebut kemudian dilanda badai. Otoritas setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian di atas angka normal (excess deaths) selama periode gelombang panas berlangsung.
Secara regional, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.300 kematian di atas angka normal di kawasan Eropa sejak 21 Juni 2026. Data tersebut menunjukkan besarnya dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh peningkatan suhu ekstrem di berbagai negara.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa Eropa merupakan kawasan yang mengalami laju pemanasan tercepat dibandingkan wilayah lain di dunia. Menurutnya, peningkatan suhu di benua tersebut berlangsung sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu global.
Tedros juga mengingatkan bahwa sebagian besar infrastruktur di Eropa belum dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem dalam jangka panjang. Ia menilai perubahan iklim dan pemanasan global telah mengubah pola cuaca, sehingga gelombang panas yang sebelumnya diperkirakan hanya muncul sekali dalam satu generasi kini berpotensi terjadi hampir setiap tahun.












