NEMUKABAR.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan dampak awal gempa bumi yang mengguncang wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan sejumlah daerah di Provinsi Sulawesi Utara pada Senin (8/6/2026). Berdasarkan data terbaru yang dihimpun hingga pukul 12.30 WIB, puluhan keluarga dilaporkan terdampak dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa hasil pendataan sementara menunjukkan terdapat 27 kepala keluarga (KK) yang terdampak akibat peristiwa gempa tersebut. Sebagian besar korban terdampak berada di wilayah Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.
“Terdiri dari 20 KK di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan tujuh KK di Kabupaten Kepulauan Talaud,” kata Abdul Muhari kepada wartawan.
Selain berdampak terhadap warga, gempa juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan permukiman dan fasilitas umum. Data sementara BNPB mencatat sebanyak 27 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat yang masih dalam proses verifikasi oleh petugas di lapangan.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada beberapa sarana publik dan fasilitas pelayanan masyarakat. Di antaranya dua unit gereja, satu bangunan sekolah, satu rumah dinas guru, serta satu gedung GMIM 76 yang berada di wilayah Kabupaten Minahasa Utara.
BNPB menegaskan bahwa seluruh data yang tersedia saat ini masih bersifat sementara dan berpotensi mengalami perubahan seiring berjalannya proses pendataan serta asesmen yang dilakukan oleh tim di lapangan.
“Seluruh data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring proses asesmen di lapangan,” terangnya.
Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, getaran dirasakan oleh masyarakat yang berada di Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat.
Sementara itu, di Kabupaten Kepulauan Talaud, dampak getaran tercatat dirasakan oleh warga Kecamatan Rainis. Adapun di Kabupaten Minahasa Utara, guncangan dirasakan masyarakat yang berada di Kecamatan Likupang Barat. Warga Kota Manado juga melaporkan merasakan getaran dengan intensitas sedang selama beberapa detik.
Menurut laporan BNPB, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe sempat merasakan guncangan cukup kuat dengan durasi sekitar tiga hingga empat detik. Kondisi tersebut memicu kepanikan warga yang berupaya menyelamatkan diri ke area yang dianggap lebih aman.
Di wilayah lain seperti Kepulauan Talaud, Kota Manado, dan Kabupaten Minahasa Utara, intensitas getaran yang dirasakan relatif lebih ringan hingga sedang. Durasi guncangan di daerah-daerah tersebut berlangsung sekitar dua hingga empat detik.
Sebagai langkah respons cepat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing-masing wilayah terdampak telah diterjunkan untuk melakukan pemantauan, pengumpulan informasi, serta penilaian awal terhadap dampak bencana.
“BPBD di masing-masing wilayah segera melakukan pemantauan, pengumpulan data, serta asesmen cepat untuk memastikan dampak yang ditimbulkan,” pungkasnya.
BNPB memastikan koordinasi antara pemerintah daerah dan instansi terkait terus dilakukan guna mempercepat proses penanganan pascagempa. Hasil asesmen lanjutan akan menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan bantuan serta langkah mitigasi yang diperlukan bagi masyarakat terdampak.












