Rupiah Melemah Lebih dari 5 Persen, Ekonom Soroti Tekanan
NASIONAL

Rupiah Melemah Lebih dari 5 Persen, Ekonom Soroti Tekanan Domestik

×

Rupiah Melemah Lebih dari 5 Persen, Ekonom Soroti Tekanan Domestik

Sebarkan artikel ini
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).

NEMUKABAR.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh gejolak ekonomi global. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai terdapat tekanan domestik yang turut berkontribusi terhadap melemahnya mata uang nasional sepanjang tahun 2026.

Menurut Josua, kinerja rupiah terlihat tertinggal dibandingkan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Berdasarkan data pasar terkini, rupiah tercatat mengalami depresiasi lebih dari 5 persen secara year-to-date, sementara penguatan indeks dolar Amerika Serikat atau US Dollar Index (DXY) relatif terbatas.

Ia menjelaskan, penguatan dolar AS sepanjang tahun ini hanya berada di kisaran 0,9 persen. Namun, dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah justru mengalami pelemahan yang jauh lebih dalam.

“Kalau saya tidak salah, data per tahun sebenarnya DXY juga secara tahun kalender pun juga di tahun ini kelemahannya, penguatannya sebenarnya juga enggak menguat banyak ya 0,9 persen. Tapi kalau kita lihat rupiah itu melemahnya hampir 5 persen lebih,” kata Josua dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Jumat (22/5/2026).

Josua menilai terdapat fenomena menarik dalam pergerakan rupiah terhadap mata uang negara-negara Asia lainnya. Berdasarkan pengamatannya, rupiah hanya mampu mencatatkan penguatan terhadap Rupee India, sementara terhadap mata uang Asia lain justru mengalami pelemahan signifikan.

“Lebih menariknya, jangan berkedip, kita hanya menguat terhadap rupee India. Selebihnya kita melemah terhadap semua mata uang Asia,” ujarnya.

Ia mengungkapkan tekanan terbesar terhadap rupiah terjadi saat berhadapan dengan Ringgit Malaysia. Selain itu, rupiah juga tercatat mengalami depresiasi terhadap Dolar Singapura, Hong Kong Dollar, hingga Yuan China.

Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor internal perekonomian nasional turut memengaruhi stabilitas kurs rupiah. Oleh sebab itu, ia menilai penjelasan mengenai pelemahan mata uang domestik tidak bisa hanya dikaitkan dengan sentimen eksternal semata.

Pergerakan nilai tukar, lanjutnya, sangat dipengaruhi oleh keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing di pasar domestik. Faktor-faktor seperti arus modal, kebutuhan impor, hingga persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi nasional dinilai memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas rupiah.

“Yang paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap Singapur Dollar, yang berikutnya terhadap Hong Kong, terhadap Yuan. Jadi, jangan terus menyalahkan global,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan fundamental ekonomi domestik tetap menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi internasional yang terus berubah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *