NEMUKABAR.COM – Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan pentingnya pengelolaan sampah berbasis lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga memastikan terciptanya kawasan yang bersih dan minim emisi gas berbahaya. Hal tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat saat menghadiri peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional di Universitas Islam Internasional Indonesia, Jumat (22/5/2026).
Dalam paparannya, Jumhur menyinggung kondisi pengelolaan sampah di sejumlah wilayah, termasuk Bogor dan Depok. Ia menilai, konsep utama penanganan sampah harus difokuskan pada penghilangan timbunan limbah serta pencegahan pencemaran lingkungan akibat emisi gas metana.
“Tidak ada sampah yang terserak, tidak ada metan atau gas metan yang diemisikan dikeluarkan itu inti utamanya, bersih. Kalau bisa menjadi energi, bisa menjadi apapun dia, yang punya nilai ekonomi itu bonus,” kata Jumhur.
Menurut Jumhur, paradigma pengelolaan sampah modern harus mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Pemanfaatan limbah menjadi energi dinilai sebagai nilai tambah, namun prioritas utama tetap pada terciptanya lingkungan yang sehat dan bebas pencemaran.
Pada kesempatan tersebut, Jumhur juga menekankan pentingnya menjaga biodiversity atau keanekaragaman hayati nasional. Ia menyebut Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia.
“Harus diingat juga gini ya, ada yang mengatakan kita negara nomor dua biodiversity, ternyata tidak. Kita itu mega biodiversity dan nomor satu,” ujar Jumhur.
Ia menjelaskan, kekayaan biodiversitas Indonesia mencakup ekosistem laut, kawasan hutan tropis, hingga bentang daratan yang menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna endemik. Karena itu, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga keseimbangan ekologi nasional.
“Jadi memang kita sangat legitimate, sangat valid, sah kalau kita berteriak keras untuk me-preserve biodiversity di dunia dan tentunya dimulai juga dari Indonesia,” jelas Jumhur.
Lebih lanjut, Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan komitmennya dalam memberikan peringatan terhadap pihak-pihak yang berpotensi merusak ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia. Di sisi lain, pemerintah juga akan memberikan dukungan terhadap kelompok maupun komunitas yang aktif memperjuangkan pelestarian lingkungan.
“Kadang, kita ketika membangun, membangun, membangun, kita suka abai atau lupa bagaimana pentingnya memelihara lingkungan dan biodiversity,” terang Jumhur.
Sebagai langkah konkret, Kementerian LH tengah menyiapkan gerakan nasional penanaman pohon di berbagai kawasan kritis. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat pemulihan lingkungan sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
“Mudah-mudahan itu juga bisa membawa kebaikan bagi masyarakat lokal dan kita semua,” ucap Jumhur.
Selain itu, pemerintah juga telah menerapkan kebijakan waste to electricity di 34 wilayah aglomerasi yang mencakup sekitar 115 kabupaten dan kota di Indonesia. Program tersebut diarahkan untuk mempercepat transformasi pengelolaan sampah menjadi sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Kementerian LH telah memberlakukan 34 wilayah aglomerasi tentang waste to electricity. 34 aglomerasi itu meng-cover sekitar 115 kabupaten maupun kota. Tapi the rest, sisanya itu sebenarnya itu problem sendiri,” pungkas Jumhur.












