NEMUKABAR.COM – Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Ibrahim Arief alias Ibam, menghadapi tuntutan pidana berat. Jaksa menuntut Ibam dengan hukuman 15 tahun penjara serta kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp16,9 miliar. Apabila denda tersebut tidak dipenuhi, masa hukumannya akan bertambah 7,5 tahun, sehingga total ancaman pidana mencapai 22,5 tahun.
Menanggapi tuntutan tersebut, Ibam menyatakan keberatan dan menilai dakwaan yang dialamatkan kepadanya tidak memiliki dasar kuat. Ia menegaskan bahwa seluruh proses persidangan yang telah berlangsung selama lebih dari empat bulan tidak mampu membuktikan keterlibatannya dalam praktik korupsi tersebut.
“Saya dituntut 22,5 tahun penjara atas hal yang saya tidak pernah lakukan. Sepanjang sidang empat bulan lebih, 20-an kali sidang, 50-an orang saksi, tidak ada satupun bukti saya menerima keuntungan aliran dana. Tidak ada satupun bukti saya terlibat di proses pengadaan, pelaksanaan pengadaan,” kata Ibam di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Ibam juga menyoroti keterangan para saksi yang menurutnya justru memperkuat posisinya. Ia mengklaim tidak ada pihak, termasuk vendor maupun tim pengadaan, yang menyebut dirinya terlibat dalam proses proyek tersebut.
“Semua vendor, semua orang di tim pengadaan bilang saya nggak ada di situ. Bahkan bukti yang sangat jelas hitam di atas putih, tanda tangan kajian Chromebook yang dinarasikan, diceritakan seakan-akan saya membikin itu, itu nggak ada,” sambungnya.
Lebih jauh, Ibam mengungkapkan dampak besar kasus ini terhadap kehidupan pribadinya dan keluarga. Ia mengenang masa ketika dirinya tinggal di luar negeri dengan karier yang stabil di bidang teknologi informasi, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia.
“Saya sebelum ini bersama istri saya, kita tinggal di luar negeri. Dengan semua yang kita dapatkan dari situ, tapi kami memutuskan untuk balik pindah ke Indonesia dengan gaji yang lebih kecil. Karena waktu itu kami melihat banyak sekali yang teknologi bisa bantu di Indonesia. Kita pulang dengan ikhlas dan tulus untuk ngebantu bangun Indonesia,” tutur Ibam.
Keputusan tersebut, lanjutnya, bahkan diambil meski sempat ada peluang berkarier di perusahaan teknologi besar di luar negeri. Ia memilih kembali ke Tanah Air setelah mendapatkan ajakan untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi nasional.
“Saya juga sempat mendapatkan tawaran untuk pindah ke luar negeri. Namun waktu itu ada diskusi, ada pembicaraan bahwa ada misi yang hendak kita bangun sebenarnya dan misi ini setelah saya timbang-timbang, adalah misi untuk berbakti pada negara, untuk membuktikan kita teknologi bisa ngebangun sesuatu untuk negara,” ucap Ibam.
Ibam turut meluruskan isu yang menyebut dirinya memiliki kedekatan khusus dengan mantan Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim. Ia menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak seperti yang selama ini berkembang di publik.
“Di narasi yang beredar, seakan-akan saya adalah seorang kroni dari Nadiem Makarim. Seakan-akan saya udah kenal dia dari lama dari dunia startup. Itu adalah salah besar. Saya dan Nadiem nggak pernah kenal, nggak pernah ketemu, sampai ada misi untuk membangun teknologi di negara ini,” beber Ibam.
Ia bahkan menunjukkan bukti percakapan awal dengan Nadiem yang terjadi pada 15 Januari 2020, setelah yang bersangkutan menjabat sebagai menteri. Dalam komunikasi tersebut, menurut Ibam, tidak ada pembahasan terkait proyek pengadaan Chromebook.
“Ini chat WA. 15 Januari 2020. Setelah Nadiem jadi Menteri. Bukan narasi kroni-kroni itu, bukan. Kita bahas soal cara kita ngebangun teknologi, organisasi. Dalam semua pembahasan ini, ini adalah perkenalan pertama, sama sekali nggak ada bahasan Chromebook. Saya ingin menggarisbawahi itu,” ujarnya.
Ibam menambahkan bahwa dalam percakapan tersebut, fokus utama adalah misi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui teknologi. Ia menilai ajakan tersebut sebagai panggilan untuk berkontribusi bagi masa depan generasi muda Indonesia.
“Saya ingin fokus ke sini, satu hal yang Nadiem sampaikan ke saya di chat pertama saya dengan beliau. Saya akan bacakan: Ini adalah misi tertinggi di negara saat ini. Kita harus bangga dengan itu, dan kita harus total masuk ke situ. Apapun yang kita lakukan, anak-anak kita akan merasakan perbedaannya. Dan itu hal yang penting bagi kita,” sambungnya.
Meski pada awalnya belum sepenuhnya memahami arah kebijakan tersebut, Ibam mengaku yakin bahwa visi yang dibawa merupakan upaya idealis untuk memajukan bangsa. Ia menyebut perannya lebih banyak berkutat pada pengembangan sistem dan aplikasi, bukan pengadaan barang.
“Saya nggak tahu sebenarnya ke mana arahnya, tapi saya melihat dia sebagai seorang idealis. Saya bergabung ke sini, bergabung ke Kemendikbud, membantu Kemendikbud membangun teknologi, adalah untuk misi itu. Bisa dilihat di percakapan pertama kami. Misi kita adalah untuk ngebangun teknologi untuk anak-anak kita nanti,” tegas Ibam.
“Sama sekali nggak ada tentang pengadaan. Sama sekali nggak ada tentang proyek. Nggak ada. Kita ngebangun teknologi, ngebangun aplikasi. Sebagian besar kerjaan saya dengan tim yang ada adalah itu. Berbicara dengan stakeholder, kita bangun aplikasi, apa yang bisa make an influence buat negara. Ujungnya adalah buat anak kita semua,” imbuhnya.












