Belajar dari Masa Hiatus, Megan KATSEYE Pahami Pentingnya
KESEHATAN

Belajar dari Masa Hiatus, Megan KATSEYE Pahami Pentingnya Istirahat dan Kesehatan Mental

×

Belajar dari Masa Hiatus, Megan KATSEYE Pahami Pentingnya Istirahat dan Kesehatan Mental

Sebarkan artikel ini
Megan Skiendiel, anggota KATSEYE, terbuka mengenai perjuangannya menjaga kesehatan mental. Dia mengaku dukungan dari orang-orang terdekat dan terapi membantunya menghadapi berbagai tantangan. (Ian Maule / AFP)

NEMUKABAR.COM – Anggota girl group global KATSEYE, Megan Skiendiel, membagikan pengalaman personalnya dalam menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan aktivitas sebagai bagian dari grup. Perempuan berusia 20 tahun itu mengatakan dukungan lingkungan sosial dan terapi menjadi dua hal yang membantunya menghadapi berbagai tekanan emosional.

Pernyataan Megan mengenai kesehatan mental muncul ketika dua anggota KATSEYE, Sophia Laforteza dan Manon Bannerman, diketahui mengambil jeda dari kegiatan grup. Keduanya disebut memprioritaskan kondisi kesehatan dan kesejahteraan sebelum kembali menjalani aktivitas bersama KATSEYE.

Dalam wawancara dengan People, Megan mengatakan persoalan kesehatan mental bukan sesuatu yang baru ia hadapi. Ia mengaku telah cukup lama berupaya memahami dan mengelola berbagai kondisi emosional yang dialaminya.

“Saya selalu berjuang dengan kesehatan mental dan segala hal yang berkaitan dengan itu,” kata Megan seperti dikutip dari Channel News Asia pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Menurut Megan, keberadaan orang-orang yang tepat di sekelilingnya memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi tekanan. Ia secara khusus mengapresiasi para anggota KATSEYE yang dinilai mampu memberikan rasa aman dan dukungan emosional.

“Saya rasa salah satu hal yang benar-benar membantu saya adalah orang-orang yang saya pilih untuk berada di sekitar saya, terutama para anggota grup,” ujarnya.

Megan menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang terbuka dan ekspresif ketika berinteraksi dengan orang lain. Namun, karakter tersebut terkadang membuatnya khawatir akan dinilai berlebihan oleh lingkungan sekitar.

Kekhawatiran itu, menurut Megan, tidak ia rasakan ketika bersama rekan-rekannya di KATSEYE. Ia merasa para anggota grup dapat menerima kepribadiannya tanpa membuatnya harus membatasi atau menyembunyikan sisi dirinya.

“Saya orang yang sangat terbuka, tetapi pada saat yang sama, beberapa orang mungkin menganggap saya terlalu berlebihan. Namun, para anggota grup tidak pernah membuat saya merasa seperti itu,” tambahnya.

Pengalaman tersebut membuat Megan menyadari pentingnya membangun lingkungan pertemanan dan relasi yang memberikan dukungan positif. Ia pun mulai lebih selektif dalam menentukan orang-orang yang berada dekat dengannya.

“Saya benar-benar belajar bagaimana memilih orang yang tepat, yaitu mereka yang mendukung saya dan mendorong saya untuk menunjukkan sisi tersebut,” ujarnya.

Bagi Megan, lingkungan yang suportif bukan sekadar memberikan rasa nyaman. Dukungan tersebut juga membantunya mengembangkan penerimaan terhadap diri sendiri dan meningkatkan keberanian untuk mengekspresikan kepribadian secara lebih autentik.

Selain dukungan dari orang terdekat, Megan mengatakan terapi turut memainkan peranan penting dalam proses pengelolaan kesehatan mentalnya. Baginya, terapi menyediakan ruang yang aman untuk mengutarakan berbagai perasaan yang sebelumnya berpotensi hanya dipendam.

Megan bahkan memandang terapi sebagai salah satu pilihan yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Ia menilai kemampuan untuk membicarakan perasaan merupakan bagian penting dalam memahami kondisi emosional seseorang.

“Sangat menyenangkan bisa membicarakan perasaan daripada memendamnya. Saya rasa itu adalah hal terbesar yang saya pelajari,” ujar Megan.

Pengalaman pribadi Megan ketika harus menghentikan sementara aktivitas bersama KATSEYE pada 2024 akibat cedera punggung juga membentuk perspektifnya mengenai pentingnya waktu istirahat.

Dalam dokumenter KATSEYE: WILD HEARTS, Megan menceritakan bahwa masa hiatus tersebut bukan periode yang mudah. Ia harus menyaksikan rekan-rekannya tetap menjalankan aktivitas grup ketika dirinya belum dapat berpartisipasi.

“Ketika saya hiatus karena cedera punggung, rasanya sangat sulit melihat semua yang dilakukan para anggota grup sementara saya sendiri tidak bisa berada di sana,” kata Megan.

Pengalaman tersebut membuat Megan memiliki pemahaman yang lebih besar terhadap keputusan anggota grup yang membutuhkan jeda dari aktivitas. Ia dapat melihat bahwa kebutuhan untuk beristirahat dan memulihkan diri merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan aktivitas sebagai seorang performer.

Dalam situasi saat ini, KATSEYE disebut tetap memberikan dukungan kepada Sophia Laforteza dan Manon Bannerman selama keduanya menjalani masa jeda. Kesehatan dan kesejahteraan setiap anggota menjadi salah satu perhatian penting di tengah aktivitas grup yang memiliki tuntutan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *