NEMUKABAR.COM – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang sangat ditentukan oleh peran ibu dalam memastikan tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan. Menurutnya, pemenuhan gizi, khususnya melalui pemberian air susu ibu (ASI), merupakan fondasi penting dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Pernyataan tersebut disampaikan Hasto saat menghadiri peringatan Hari ASI Sedunia di Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (6/8/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan politik, tetapi juga oleh kualitas investasi pada generasi sejak usia dini.
Hasto berpandangan bahwa politik semestinya dijalankan sebagai instrumen untuk membangun peradaban dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, bukan semata-mata menjadi arena perebutan kekuasaan maupun kepentingan ekonomi. Ia menilai, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas gizi serta perkembangan intelektual anak yang berawal dari perhatian seorang ibu terhadap kebutuhan nutrisi sejak lahir.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Hasto mengatakan PDI Perjuangan akan terus memperkuat program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, termasuk mendorong pemenuhan gizi bayi sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa.
“Bagi PDI Perjuangan, kita kembali ke akar rumput kita, termasuk hari ini mempersiapkan bayi-bayi Indonesia agar memiliki gizi yang cukup. Saya akan berikan pantun kedua: ASI menyelamatkan kehidupan, cerminan kasih ibu yang tidak berkesudahan. ASI tidak pernah tergantikan, berikan gizi lengkap, basis kecerdasan untuk masa depan,” jelas dia.
Dalam kesempatan yang sama, Hasto juga menyampaikan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan mengutip pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, mengenai pentingnya kesetaraan peran laki-laki dan perempuan dalam pembangunan bangsa.
“Satu patah, burung tidak bisa terbang. Indonesia tidak akan pernah makmur kalau ibu-ibunya juga tidak maju,” kata dia.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Ono Surono, mengungkapkan bahwa Kabupaten Sukabumi masih menghadapi tantangan serius dalam penanganan stunting. Berdasarkan data yang disampaikannya, prevalensi stunting di daerah tersebut mencapai 20,5 persen, sehingga menempatkan Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu wilayah dengan angka stunting tertinggi di Provinsi Jawa Barat.
“Artinya, dari 10 bayi yang lahir, dua di antaranya stunting,” ungkap dia.
Masih dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning, memberikan edukasi langsung kepada para ibu menyusui mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Menurutnya, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase yang sangat menentukan kualitas pertumbuhan fisik maupun perkembangan kemampuan kognitif anak.
“Tahu enggak stunting itu 1.000 hari pertama kehidupan? 270 hari di dalam kandungan, 730 hari di luar. Stunting tidak harus pendek, tapi IQ-nya, Pak. Kalau IQ-nya di bawah, sama saja dia stunting,” kata dia.
Menutup kegiatan tersebut, Hasto kembali menegaskan bahwa pembangunan Indonesia yang unggul harus dimulai sejak masa awal kehidupan anak. Ia menilai pemberian ASI yang optimal merupakan investasi strategis untuk membentuk generasi yang sehat, cerdas, serta memiliki kapasitas kepemimpinan di masa depan.
“Indonesia unggul dibangun dari dini, dari sosok bayi yang diberikan ASI,” kata dia.
Peringatan Hari ASI Sedunia tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi politik, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran mengenai pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Upaya tersebut dinilai menjadi salah satu langkah fundamental dalam menurunkan prevalensi stunting sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju pembangunan yang berkelanjutan.












