NEMUKABAR.COM – Penerapan skema harga dinamis oleh FIFA dalam penjualan tiket FIFA World Cup 2026 memicu kekhawatiran di kalangan federasi sepak bola peserta. Kenaikan harga yang signifikan terutama dirasakan untuk pembelian tiket keluarga pemain dan tamu resmi, sehingga berpotensi membebani anggaran sejumlah negara peserta selama turnamen berlangsung.
Situasi tersebut mulai mencuat setelah proses undian grup yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada 5 Desember 2025. FIFA sebelumnya memberikan waktu sekitar enam minggu kepada seluruh federasi peserta untuk membeli tiket dengan harga tetap. Namun, permintaan tambahan yang diajukan setelah akhir Januari 2026 dikenakan sistem “adaptive pricing” atau harga adaptif yang menyebabkan lonjakan biaya secara drastis.
Seorang pejabat senior dari salah satu federasi nasional mengaku terkejut setelah organisasinya mengajukan tambahan ratusan tiket. Menurut dia, total biaya yang harus dibayarkan meningkat jauh di luar perkiraan awal. Kondisi serupa juga diungkapkan oleh seorang eksekutif federasi lain yang menyebut harga rata-rata tiket untuk keluarga pemain dan tamu resmi kini menyentuh angka 3.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp52,2 juta per lembar.
Besarnya nominal tersebut dinilai dapat mengurangi fleksibilitas anggaran federasi, terutama bagi negara dengan kemampuan finansial terbatas. Walaupun demikian, sumber internal FIFA membantah klaim bahwa rata-rata harga tiket federasi telah mencapai level setinggi itu.
Dalam upaya mengakomodasi tingginya permintaan publik, FIFA merancang penjualan tiket dalam empat tahap utama, yakni Oktober dan Desember 2025, kemudian Januari serta April 2026. Penjualan tambahan juga direncanakan dibuka menjelang dimulainya kompetisi. Kesempatan terbesar bagi federasi peserta untuk memperoleh tiket disebut akan dimulai setelah proses undian grup selesai digelar pada Desember mendatang.
Di sisi lain, FIFA dilaporkan masih menahan sebagian inventaris tiket dengan harga lama yang disiapkan khusus untuk enam negara yang lolos melalui jalur playoff antarkonfederasi pada Maret lalu. Selain itu, setiap peserta turnamen juga memperoleh alokasi tiket gratis bagi delegasi resmi dan tamu undangan mereka.
Munculnya lonjakan harga membuat sejumlah federasi mulai mempertanyakan kebijakan penjualan tiket tersebut. Meski demikian, FIFA menegaskan bahwa seluruh syarat dan mekanisme pembelian telah disampaikan sejak awal kepada seluruh peserta. Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebut federasi yang mematuhi tenggat waktu pembelian tidak akan terdampak kenaikan harga signifikan.
Sebagai contoh, The Football Association disebut telah mengamankan seluruh kebutuhan tiket pada Desember 2025 sehingga tidak terkena dampak dari skema harga adaptif tersebut. Kekhawatiran terbesar justru datang dari negara-negara kecil yang diprediksi akan mengalami tekanan finansial paling berat.
Pada awal Mei 2026, FIFA mengumumkan peningkatan dana persiapan dan partisipasi bagi setiap federasi peserta dari sebelumnya 10,5 juta dolar AS menjadi 12,5 juta dolar AS. Selain itu, FIFA juga menyiapkan tambahan dana sebesar 16 juta dolar AS yang akan didistribusikan kepada 48 negara peserta untuk membantu kebutuhan perjalanan selama turnamen berlangsung.
Meski mendapatkan tambahan dukungan dana, sejumlah federasi besar tetap memperkirakan potensi kerugian finansial selama mengikuti kompetisi. Dalam kongres FIFA bulan lalu, Presiden FIFA Gianni Infantino mengungkapkan bahwa permintaan tiket telah mencapai sekitar 500 juta. Ia menyatakan seluruh tiket yang sudah dirilis kepada publik telah habis terjual dan mencakup sekitar 90 persen total inventaris global.
FIFA juga telah meluncurkan platform resmi penjualan ulang tiket atau resale. Menariknya, pada beberapa pertandingan tertentu, harga tiket di pasar resale justru lebih rendah dibandingkan harga resmi di situs utama FIFA. Sebagai contoh, tiket kategori satu untuk pertandingan pembuka antara United States men’s national soccer team melawan Paraguay national football team di Los Angeles dijual resmi seharga 2.735 dolar AS, sementara di platform resale FIFA sempat tersedia dengan harga sekitar 1.300 dolar AS.
Walaupun menawarkan opsi harga lebih rendah, FIFA tetap mengenakan komisi sebesar 15 persen kepada pembeli dan penjual untuk setiap transaksi resale. Kebijakan tersebut membuat biaya tambahan tetap menjadi perhatian bagi suporter maupun federasi.
Di luar platform resmi FIFA, tren penurunan harga tiket mulai terlihat di sejumlah pasar sekunder. Data dari TicketData.com
menunjukkan harga tiket termurah untuk 87 dari 91 pertandingan di Amerika Serikat dan Kanada mengalami penurunan dalam dua pekan terakhir.
Kebijakan harga tiket FIFA juga memunculkan kritik dari berbagai pihak, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menanggapi tingginya harga pertandingan pembuka tim nasional Amerika Serikat, Trump menyatakan, “Saya tidak akan membayar sebesar itu.”
Meski menuai kontroversi, FIFA tetap mempertahankan strategi harga mereka. Organisasi sepak bola dunia itu berpendapat tarif tiket yang diberlakukan masih sejalan dengan standar harga acara olahraga premium di pasar Amerika Serikat.
Dukungan terhadap kebijakan tersebut juga datang dari Andrew Giuliani, kepala gugus tugas Piala Dunia bentukan Trump. Dalam wawancaranya dengan Financial Times, Giuliani mengatakan, “Kami benar-benar tidak percaya pada kontrol harga.” Pernyataan itu menunjukkan adanya dukungan dari sebagian pihak pemerintah Amerika Serikat terhadap mekanisme pasar yang diterapkan FIFA.












