NEMUKABAR.COM – Putri kedua Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, menegaskan bahwa dirinya bersama Nahdlatul Ulama menghormati setiap perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan, termasuk metode pemantauan hilal yang digunakan pemerintah.
“Cuma kalau di masjid ini dan yang kami ikuti memang kita memakai metode rukyatul hilal,” tegas Yenny saat diwawancarai awak media, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, perbedaan awal Ramadhan bukanlah persoalan selama didasari keyakinan dan metode yang jelas. Ia menilai masyarakat dapat mengikuti penetapan yang diyakini masing-masing, baik melalui hisab maupun rukyat.
“Tidak masalah ya sesuai keyakinan masing-masing sesuai metode yang dipakai. Memang kalau mungkin ada yang memakai hitung dengan hitungannya sendiri, hisabnya sendiri. Nah, kemudian menentukan terjadinya Ramadan itu besok,” ucap dia.
Yenny menjelaskan, metode rukyatul hilal sangat bergantung pada lokasi pemantauan. Namun, apabila hilal terlihat secara kasat mata pada suatu malam, maka awal Ramadhan dapat ditetapkan pada hari berikutnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat tetap berpegang pada keyakinan masing-masing, dengan catatan bersandar pada metode yang digunakan para ahli dan bukan keputusan pribadi tanpa dasar ilmiah.
“Yang terbaik adalah sesuai keyakinan kita masing-masing. Jadi kayak kalau yang yakin dengan metode yang diikuti oleh para ahli yang diikutinya itu menunjukkan bahwa bulan Ramadhan mulainya besok silakan saja,” ujarnya.
“Tetapi kalau di sini kami yakinnya kalau sudah terlihat bulannya, Insya Allah kalau sudah bila terlihat kapanpun itu kita hormati keputusan itu,” lanjut Yenny.
Ia menambahkan, baik metode hisab maupun rukyatul hilal merupakan pendekatan yang telah teruji dalam menentukan awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan.
“Karena dipakai juga dengan menggunakan metode apa metode yang sudah teruji. Nah, jadi itu yang akan kita kita lihat karena kan memang namanya puasa bulan Ramadhan,” pungkasnya.












