Harga Cabai Naik Jelang Ramadan 2026, Deflasi Awal Tahun Tak
NASIONAL

Harga Cabai Naik Jelang Ramadan 2026, Deflasi Awal Tahun Tak Banyak Terasa

×

Harga Cabai Naik Jelang Ramadan 2026, Deflasi Awal Tahun Tak Banyak Terasa

Sebarkan artikel ini

NEMUKABAR.COM – Menjelang bulan suci Ramadan, satu komoditas yang hampir selalu menjadi sorotan masyarakat adalah cabai. Pergerakan harganya kerap dijadikan tolok ukur sederhana untuk menilai kondisi kebutuhan pokok – apakah masih terjangkau atau mulai menekan pengeluaran rumah tangga. Memasuki awal 2026, situasi serupa kembali terjadi ketika harga cabai menunjukkan tren kenaikan di sejumlah daerah.

Pada awal Februari 2026, harga cabai rawit merah di beberapa wilayah terpantau berada di kisaran Rp76.300 per kilogram, sementara daerah lain mencatat harga sekitar Rp69.000 per kilogram. Fluktuasi ini tidak sekadar dipengaruhi faktor musiman, tetapi juga berkaitan dengan dinamika inflasi, deflasi, serta langkah stabilisasi yang disiapkan pemerintah menjelang Ramadan 1447 Hijriah.

Kondisi tersebut menjadi menarik karena di tengah harga cabai yang relatif tinggi, data resmi justru mencatat deflasi bulanan pada awal tahun. Hal ini menunjukkan adanya jarak antara indikator ekonomi makro dan kenyataan harga di tingkat konsumen. Pertanyaan yang kemudian muncul: bagaimana sebenarnya kondisi harga pangan saat ini, dan apa dampaknya bagi rumah tangga menjelang Ramadan?

Rilis terbaru dari Badan Pusat Statistik mencatat deflasi bulanan sebesar 0,15 persen pada Januari 2026. Penurunan ini terutama dipicu turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dibandingkan bulan sebelumnya.

Namun secara tahunan, inflasi justru mencapai 3,55 persen. Artinya, dibandingkan Januari 2025, harga barang dan jasa secara umum masih mengalami kenaikan. Dua indikator ini berjalan beriringan: penurunan jangka pendek terjadi, tetapi tren tahunan tetap menunjukkan tekanan harga.

Bagi masyarakat, situasi ini kerap terasa membingungkan. Istilah deflasi tidak selalu identik dengan harga murah di pasar. Dalam banyak kasus, harga hanya turun tipis dari posisi sebelumnya yang sudah tinggi.

Perubahan harga pangan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari musim panen, distribusi, biaya logistik, hingga lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan. Pada Desember 2025, kelompok makanan justru menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kontribusi sekitar 0,45 poin persentase.

Komoditas seperti cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras memberi tekanan signifikan karena memiliki porsi besar dalam konsumsi rumah tangga. Kenaikan kecil saja pada komoditas tersebut langsung terasa dalam belanja harian.

Secara tahunan, inflasi komponen makanan pada Januari 2026 tercatat sekitar 3,62 persen, dengan beras, telur ayam ras, minyak goreng, dan cabai rawit sebagai penyumbang utama.

Perbedaan harga antarwilayah dipengaruhi oleh:

  • Struktur pasokan: daerah jauh dari sentra produksi cenderung memiliki harga lebih tinggi.

  • Distribusi dan logistik: transportasi, cuaca, dan infrastruktur memengaruhi harga di tingkat konsumen.

  • Pola konsumsi lokal: kelompok makanan dan minuman tetap menjadi pengeluaran terbesar rumah tangga.

Konsumsi Rumah Tangga Naik Saat Ramadan

Ramadan identik dengan peningkatan belanja pangan, baik untuk sahur, berbuka, maupun persiapan Lebaran. Pola ini berulang hampir setiap tahun dan berdampak langsung pada pergerakan harga.

Dalam struktur ekonomi nasional, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh pembentukan produk domestik bruto (PDB). Karena itu, perubahan harga pangan tidak hanya memengaruhi dapur keluarga, tetapi juga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Data inflasi Januari 2026 pun menjadi indikator awal untuk membaca tekanan harga menjelang periode konsumsi puncak tersebut.

Pemerintah bersama Bank Indonesia menargetkan inflasi tetap berada pada kisaran 2,5 persen ±1 persen. Capaian 3,55 persen masih berada dalam rentang sasaran, meski mendekati batas atas.

Sebagai langkah antisipasi Ramadan 2026, pemerintah menetapkan target Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton—meningkat dari sebelumnya 3 juta ton. Cadangan ini digunakan untuk:

  • operasi pasar saat harga melonjak,

  • menjaga kelancaran distribusi,

  • memastikan ketersediaan pasokan di masyarakat.

Meski demikian, stabilitas harga tidak hanya ditentukan oleh stok. Faktor cuaca, distribusi, dan logistik tetap berperan besar.

Deflasi bulanan pada Januari menandakan tekanan harga mulai mereda, tetapi tingginya harga cabai di atas Rp70.000 per kilogram menunjukkan volatilitas komoditas hortikultura masih kuat. Cabai sangat sensitif terhadap gangguan panen maupun distribusi.

Peningkatan cadangan beras memberi sinyal kesiapan pemerintah menjaga stabilitas. Namun menjelang Ramadan 1447 H, keseimbangan antara pasokan dan lonjakan permintaan tetap menjadi faktor penentu arah harga.

Dampak bagi Rumah Tangga

Bagi masyarakat, kondisi ini menuntut pengelolaan pengeluaran yang lebih cermat. Fluktuasi harga cabai, telur, dan ayam dapat memengaruhi anggaran harian, sementara kebijakan stabilisasi diharapkan mampu menahan lonjakan agar tidak membebani.

Ramadan selalu menghadirkan dinamika konsumsi sekaligus pergerakan harga. Pada awal 2026, stabilitas makroekonomi relatif terjaga, tetapi harga pangan tetap bergerak mengikuti musim dan permintaan.

Ketika harga cabai kembali memanas, perhatian publik pun tertuju pada efektivitas distribusi, kecukupan stok, serta kebijakan stabilisasi pemerintah. Apakah harga akan tetap terkendali atau kembali melonjak, menjadi pertanyaan yang akan terjawab dalam beberapa pekan menuju Ramadan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *