NEMUKABAR.COM – Proses pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, mengungkap berbagai kisah dramatis dari tim penyelamat. Selain medan ekstrem, cuaca buruk, dan keterbatasan akses, tim SAR bahkan harus bermalam di lokasi bersama jenazah korban demi memastikan proses evakuasi berjalan aman.
Tim SAR gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi korban kedua kecelakaan pesawat ATR 42-500 pada Selasa (20/1). Korban berjenis kelamin perempuan itu diduga merupakan salah satu awak kabin pesawat.
“Korban kedua berjenis kelamin perempuan telah berhasil dievakuasi,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar.
Korban sebelumnya ditemukan pada Senin (19/1) di area jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Proses evakuasi dilakukan menggunakan teknik vertical rescue yang menuntut ketelitian tinggi serta koordinasi lintas instansi.
“Evakuasi membutuhkan teknik khusus karena medan sangat curam. Tim bergerak dari lembah menuju puncak dengan peralatan vertical rescue,” jelas Arif.
Kesulitan serupa juga dialami saat mengevakuasi korban pertama. Salah satu personel rescue Basarnas Makassar, Rusmandi, mengungkapkan korban pertama ditemukan dalam kondisi tersangkut di pepohonan dekat jurang.
“Korban pertama ditemukan tersangkut pohon, tidak jauh dari jurang,” kata Rusmandi.
Ia menuturkan kondisi alam yang ekstrem memaksa tim SAR bertahan di lokasi sepanjang malam. Hujan deras, kabut tebal, serta suhu dingin membuat evakuasi tidak memungkinkan dilakukan segera.
“Kondisi cuaca dan medan tidak memungkinkan kami turun. Kami akhirnya bermalam di lereng tebing sambil menjaga jenazah korban. Jadi, kami tidur bersama jenazah,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memaparkan kronologi kejadian sebelum pesawat ATR 42-500 dinyatakan hilang kontak. Pesawat diketahui berangkat dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Makassar pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 08.00 WIB dengan membawa 10 orang, terdiri atas tujuh awak dan tiga penumpang.
Pada pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control (ATC) Bandara Sultan Hasanuddin Makassar mengarahkan pesawat untuk memasuki jalur pendaratan Runway 21. Namun, petugas ATC mendeteksi posisi pesawat berada di luar jalur pendekatan yang semestinya.
“ATC mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, kemudian memberikan arahan koreksi posisi agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur,” ujar Dudy.
Tak lama setelah instruksi tersebut diberikan, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus. ATC pun segera menetapkan status darurat sesuai standar operasional prosedur.
AirNav Indonesia bersama Makassar Area Terminal Control Center (MATSC) langsung berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten, serta instansi terkait lainnya untuk membentuk crisis center di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Hingga kini, penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 masih terus dilakukan oleh otoritas terkait.












