NEMUKABAR.COM – Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi berat setelah nilai tukar mata uang nasionalnya, rial, jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Di pasar bebas, nilai tukar mencapai sekitar 1,4 juta rial per dolar AS, mencerminkan depresiasi yang ekstrem.
Kondisi ini dipicu oleh kombinasi sanksi internasional, inflasi tinggi, serta melemahnya kepercayaan pasar terhadap perekonomian Iran. Dampaknya, harga kebutuhan pokok melonjak dan biaya hidup masyarakat meningkat tajam.
Tekanan ekonomi tersebut memicu gelombang protes di sejumlah kota besar. Aksi demonstrasi awalnya dipicu oleh melemahnya nilai tukar dan kenaikan harga barang, namun kemudian berkembang menjadi kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Di tengah eskalasi protes, pemerintah Iran memutus akses internet nasional. Laporan pemantau jaringan NetBlocks menunjukkan gangguan konektivitas hampir terjadi di seluruh wilayah negara tersebut.
Pemadaman internet berdampak luas pada aktivitas masyarakat. Layanan perbankan digital, komunikasi, hingga transaksi bisnis terganggu, memaksa warga beralih ke sistem offline untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Media internasional melaporkan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan, dengan korban jiwa dilaporkan jatuh dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan sosial diperkirakan masih akan berlanjut seiring belum adanya tanda pemulihan ekonomi.
Pakar menilai krisis ini berpotensi membawa dampak jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi dan sosial Iran. Reformasi struktural dinilai menjadi salah satu jalan keluar untuk memulihkan kepercayaan publik dan pasar.








