Baby Blues Kerap Tak Disadari, Ini Kondisi Emosional Ibu
KESEHATAN

Baby Blues Kerap Tak Disadari, Ini Kondisi Emosional Ibu Pascamelahirkan

×

Baby Blues Kerap Tak Disadari, Ini Kondisi Emosional Ibu Pascamelahirkan

Sebarkan artikel ini

NEMUKABAR.COM – Masa-masa awal setelah melahirkan kerap dipersepsikan sebagai periode paling membahagiakan bagi seorang perempuan. Kehadiran bayi, dukungan keluarga, serta ucapan selamat yang berdatangan sering kali menutupi kenyataan bahwa sebagian ibu justru mengalami perubahan emosi yang tidak mudah dijelaskan. Kondisi tersebut dikenal sebagai baby blues, fase emosional yang umum terjadi pascapersalinan namun masih sering tidak disadari.

Baby blues umumnya muncul dalam beberapa hari setelah melahirkan. Perubahan hormon yang drastis, kelelahan fisik, kurang tidur, serta tekanan psikologis akibat peran baru sebagai ibu menjadi faktor pemicunya. Kombinasi kondisi tersebut membuat emosi ibu menjadi tidak stabil.

“Baby blues merupakan respons alami tubuh dan psikologis ibu terhadap perubahan besar setelah persalinan. Ibu bisa merasa sedih, mudah menangis, atau cemas tanpa alasan yang jelas,” demikian penjelasan tenaga kesehatan dalam edukasi kesehatan ibu pascapersalinan.

Gejala baby blues kerap luput dikenali karena sering dianggap sebagai hal yang wajar. Banyak ibu menilai perasaan sedih dan gelisah sebagai efek kelelahan semata atau bagian dari proses adaptasi. Tidak sedikit pula yang memilih memendam perasaan karena khawatir dicap tidak bersyukur atau dianggap belum siap menjalani peran sebagai orang tua.

Dalam kehidupan sehari-hari, baby blues dapat muncul dalam bentuk perubahan emosi ringan, seperti menjadi lebih sensitif terhadap komentar sekitar, mudah tersinggung, atau munculnya rasa tidak percaya diri dalam mengasuh bayi. Perasaan cemas berlebihan, takut berbuat salah, hingga sulit beristirahat meski bayi sedang tidur juga kerap menyertai kondisi ini.

Secara umum, baby blues bersifat sementara dan dapat membaik dalam hitungan hari hingga beberapa minggu, terutama jika ibu mendapatkan dukungan emosional yang memadai. Namun, tenaga kesehatan mengingatkan bahwa kondisi ini perlu tetap diperhatikan.

“Jika perasaan sedih dan tertekan berlangsung lebih lama atau semakin berat, diperlukan perhatian khusus karena dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius,” jelas sumber tersebut.

Dukungan dari lingkungan terdekat dinilai menjadi kunci utama pemulihan emosional ibu. Kehadiran pasangan, keluarga, maupun orang terdekat yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, membantu perawatan bayi, serta memberi ruang bagi ibu untuk beristirahat dapat memberikan dampak signifikan.

Kesadaran akan baby blues diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih peka terhadap kesehatan mental ibu pascamelahirkan. Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, ibu tidak perlu merasa sendirian dalam menghadapi masa transisi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *