NEMUKABAR.COM – Jembatan Panaraban yang terletak di Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, kembali dapat digunakan masyarakat setelah proses rehabilitasi selesai. Jembatan yang sebelumnya sempat ambruk itu diresmikan langsung oleh Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, pada Selasa (20/1).
Bupati Amalia menyampaikan bahwa keberadaan Jembatan Panaraban memiliki peran strategis dalam menunjang mobilitas warga. Jembatan tersebut menjadi jalur utama aktivitas masyarakat, mulai dari akses pendidikan, perekonomian, hingga jalur menuju kawasan wisata Dieng.
“Dengan direhabilitasinya jembatan ini, mobilitas masyarakat kembali lancar. Jembatan Panaraban merupakan jalur utama warga, termasuk jalur pendidikan, ekonomi, dan akses menuju objek wisata Dieng,” ujar Amalia dalam sambutannya, dikutip Nemukabar.com, Rabu (21/01/2026).
Ia juga menekankan pentingnya perawatan infrastruktur agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang. Amalia menyoroti adanya bagian bawah jembatan yang mengalami gerusan air dan perlu segera ditangani.
“Kami melihat ada beberapa titik yang tergerus air. Dalam waktu dekat akan dilakukan pemasangan bronjong sebagai langkah mitigasi agar jembatan ini bisa digunakan lebih lama,” jelasnya.
Lebih lanjut, Amalia menyampaikan bahwa rehabilitasi dan pembangunan jembatan menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Banjarnegara pada tahun anggaran 2025. Keterbatasan anggaran, kata dia, membuat pemerintah daerah harus menetapkan skala prioritas pembangunan infrastruktur.
“Di Banjarnegara masih banyak jembatan dan jalan yang kondisinya rusak. Dengan anggaran yang terbatas, pada tahun 2025 kami memprioritaskan perbaikan jembatan. Jalan yang baik tidak akan berfungsi maksimal jika jembatannya rusak. Pada tahun 2026, kami mulai fokus pada perbaikan jalan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Banjarnegara, Yusuf Winarsono, menyampaikan bahwa Jembatan Panaraban merupakan satu dari tujuh jembatan yang berhasil direhabilitasi dan dibangun pada tahun 2025.
Menurutnya, jembatan yang berada di ruas Karangkobar–Batur tersebut memiliki panjang 24 meter dan lebar 6 meter. Proses rehabilitasi berlangsung selama empat bulan dengan total anggaran sebesar Rp4.719.971.970.
“Alhamdulillah, seluruh pekerjaan pembangunan dan rehabilitasi jembatan pada tahun anggaran 2025 dapat diselesaikan dengan baik,” kata Yusuf.
Dalam kesempatan itu, Bupati Amalia juga mengingatkan masyarakat untuk turut menjaga lingkungan dan aset publik. Ia menilai keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat.
“Menjaga jembatan dan jalan adalah tanggung jawab bersama. Hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan sangat berpengaruh terhadap kelestarian infrastruktur,” tegasnya.
Mengingat sekitar 70 persen wilayah Banjarnegara tergolong rawan bencana, Amalia turut mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan terus melakukan edukasi kebencanaan, khususnya di wilayah berisiko tinggi, guna meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan evakuasi mandiri masyarakat.












