NEMUKABAR.COM – Hubungan intim di luar pernikahan masih menjadi fenomena yang kerap terjadi di masyarakat. Dari sudut pandang kesehatan, perilaku ini menyimpan berbagai risiko serius yang perlu dipahami secara objektif, terutama terkait kesehatan fisik, mental, dan sosial.
Salah satu risiko utama adalah meningkatnya penularan infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, sifilis, gonore, klamidia, dan herpes genital. Hubungan seksual dengan pasangan yang tidak terikat komitmen jangka panjang cenderung memiliki tingkat ketidakpastian riwayat kesehatan, sehingga memperbesar peluang penularan penyakit. Data kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar kasus IMS berawal dari hubungan seksual tanpa perlindungan dan tanpa pemeriksaan kesehatan rutin.
Selain risiko penyakit menular, hubungan intim di luar pernikahan juga dapat menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan. Kondisi ini sering kali berdampak pada kesehatan ibu, terutama jika kehamilan tidak disertai kesiapan fisik, mental, dan akses layanan kesehatan yang memadai. Pada sebagian kasus, kehamilan tidak diinginkan berujung pada tindakan aborsi tidak aman yang berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa.
Dari sisi kesehatan mental, perilaku seksual tanpa komitmen yang jelas dapat memicu tekanan psikologis. Rasa cemas, bersalah, takut diketahui, hingga konflik emosional kerap muncul, terutama ketika hubungan tidak berjalan seimbang atau menimbulkan ketergantungan emosional sepihak. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kestabilan mental dan kepercayaan diri seseorang.
Risiko sosial juga tidak dapat diabaikan. Hubungan intim di luar pernikahan berpotensi memicu konflik antarindividu, merusak hubungan keluarga, serta menimbulkan stigma sosial, terutama dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga dan norma sosial. Dampak tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya edukasi seksual yang komprehensif dan bertanggung jawab. Pencegahan risiko dapat dilakukan melalui pemahaman tentang kesehatan reproduksi, kesetiaan pada satu pasangan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Hubungan yang dibangun di atas komitmen, kepercayaan, dan tanggung jawab dinilai lebih mampu melindungi kesehatan fisik dan mental kedua belah pihak.
Kesadaran akan risiko ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan terkait kesehatan seksual, demi menjaga kesejahteraan diri sendiri dan orang lain.








