Pakar Sebut Circular Economy Kunci Masa Depan Industri Mode
NASIONAL

Pakar Sebut Circular Economy Kunci Masa Depan Industri Mode Indonesia

×

Pakar Sebut Circular Economy Kunci Masa Depan Industri Mode Indonesia

Sebarkan artikel ini

NEMUKABAR.COM – Gaya hidup sustainable fashion semakin diminati generasi muda di kawasan urban Jakarta dan Bekasi. Tren ini mendorong masyarakat, khususnya Gen Z, untuk beralih ke aktivitas thrift shopping serta upcycling pakaian lama sebagai upaya mengurangi limbah tekstil.

Fenomena tersebut terlihat dari maraknya unggahan bertagar #ThriftHaul dan #UpcycleOutfit yang membanjiri TikTok maupun Instagram Reels. Sejumlah marketplace lokal bahkan melaporkan peningkatan transaksi pakaian bekas hingga 300 persen sejak awal 2026.

Kenaikan harga pakaian baru yang mencapai 12 persen setelah 2025 turut mendorong masyarakat mencari alternatif yang lebih terjangkau sekaligus ramah lingkungan.
Pakar fesyen dari Binus Fashion Department, Dr. Rita Hernowo, menilai perubahan ini sebagai bagian dari pergeseran pola konsumsi.

“Ini menunjukkan peralihan kesadaran dari fast fashion menuju konsep circular economy yang lebih berkelanjutan,” ujarnya, dikutip Nemukabar.com, Senin (09/02/2026).

Influencer dan Ajang Mode Perkuat Tren

Peran kreator konten juga dinilai berkontribusi besar terhadap popularitas sustainable fashion. Influencer Sophie Navira (@sophienavira), yang memiliki sekitar 1,5 juta pengikut, rutin membagikan tutorial swap pakaian komunitas dan ide modifikasi busana lama.

Di sisi lain, Jakarta Fashion Week 2026 turut menegaskan arah industri mode ramah lingkungan melalui koleksi berbahan recycled materials.
Antusiasme publik juga terlihat dalam Pasar Senen Thrift Festival pada akhir Januari 2026 yang menarik sekitar 10 ribu pengunjung. Tren tersebut kemudian meluas secara nasional melalui platform e-commerce di wilayah Bekasi dan Jakarta.

Cara Praktis dan Dampak Lingkungan

Praktik sustainable fashion dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membeli pakaian bekas dengan harga sekitar Rp50 ribu per item atau mengubah kaus lama menjadi tas pakai ulang.
Pendekatan ini disebut mampu menghemat pengeluaran hingga Rp1 juta per bulan serta mengurangi sekitar 5 kilogram limbah tekstil per orang setiap tahun.

Secara lebih luas, penerapan gaya hidup ini diperkirakan dapat menekan polusi tekstil perkotaan hingga 20 persen, sekaligus meningkatkan kreativitas masyarakat dan membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal.

Para pakar menyarankan masyarakat memulai dari skala kecil namun konsisten agar dampak keberlanjutan dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *