NEMUKABAR.COM – Situasi di kawasan Teluk kembali memanas setelah Iran mengambil langkah pembatasan akses di Selat Hormuz menyusul serangan militer yang dilaporkan melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Perkembangan ini memicu kekhawatiran global karena jalur tersebut merupakan salah satu titik paling vital dalam distribusi energi dunia.
Tak lama setelah laporan serangan mencuat, kapal-kapal niaga di sekitar Teluk menerima siaran radio dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan adanya pembatasan pelayaran hingga waktu yang belum ditentukan.
Otoritas di Teheran disebut mengambil langkah tegas sebagai respons atas serangan rudal yang menghantam sejumlah wilayah Iran. Media kawasan melaporkan bahwa kapal-kapal komersial mendapat peringatan melalui frekuensi radio frekuensi tinggi agar bersiap menghadapi pembatasan akses.
Dalam siaran tersebut, disampaikan bahwa tidak seluruh kapal akan diizinkan melintasi jalur strategis itu sampai situasi dinyatakan aman.
Langkah ini menempatkan Iran pada posisi krusial dalam dinamika geopolitik global, mengingat peran strategis wilayah tersebut dalam rantai pasok energi internasional.
Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur ini kerap disebut sebagai choke point utama perdagangan minyak dunia.
Berdasarkan data lembaga energi internasional, sekitar 20 persen konsumsi minyak global melintasi selat tersebut setiap hari. Artinya, gangguan sekecil apa pun berpotensi mendorong volatilitas harga minyak mentah di pasar dunia.
Posisi Iran di sisi utara selat juga memberi pengaruh signifikan terhadap arus distribusi energi, terutama bagi negara-negara importir besar di Asia dan Eropa.
Ketegangan meningkat setelah muncul laporan serangan di wilayah selatan Iran. Kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency (IRNA) menyebut sedikitnya 40 orang meninggal dunia akibat serangan yang menghantam sebuah sekolah putri.
Lokasi yang disebut terdampak adalah Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan. Laporan tersebut juga dikutip oleh Associated Press.
Selain korban tewas, sedikitnya 45 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Hingga kini, belum ada rincian resmi terkait identitas korban maupun kondisi terkini para korban yang dirawat.
Kota Minab diketahui memiliki fasilitas milik Garda Revolusi Iran. Namun, belum ada konfirmasi resmi apakah keberadaan fasilitas tersebut berkaitan langsung dengan serangan di area sekolah.
Pemerintah Amerika Serikat maupun Israel belum mengeluarkan keterangan rinci mengenai operasi militer yang dilaporkan tersebut.
Dalam perkembangan lain, Iran dilaporkan meluncurkan rudal balasan yang serpihannya jatuh di ibu kota Uni Emirat Arab.
Kantor berita resmi UEA, Emirates News Agency (WAM), menyatakan satu orang meninggal dunia akibat serpihan rudal. Ini menjadi korban jiwa pertama yang dikonfirmasi dalam rangkaian aksi balasan tersebut.
Otoritas setempat belum merilis detail lokasi pasti jatuhnya serpihan maupun kemungkinan korban tambahan.
Pasar energi global dikenal sangat sensitif terhadap situasi di Selat Hormuz. Setiap peningkatan ketegangan hampir selalu berdampak pada lonjakan harga minyak mentah dunia.
Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India berpotensi merasakan dampak langsung apabila jalur ini benar-benar tertutup. Stabilitas pasokan energi menjadi perhatian utama pelaku pasar dan pemerintah di berbagai belahan dunia.
Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, keamanan jalur pelayaran di Teluk merupakan kepentingan strategis jangka panjang. Armada militer Barat selama ini ditempatkan di kawasan tersebut untuk menjamin kebebasan navigasi internasional.
Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai situasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih luas apabila tidak segera diredam melalui diplomasi.
“Selat Hormuz bukan hanya persoalan regional, tetapi menyangkut stabilitas ekonomi global. Jika akses benar-benar ditutup, efeknya akan terasa dalam hitungan hari di pasar energi,” ujar seorang analis geopolitik Timur Tengah dalam wawancara terpisah.
Sementara itu, laporan dari IRNA menyebutkan, “Serangan tersebut menyebabkan puluhan korban jiwa dan luka-luka di fasilitas pendidikan,” sebagaimana dikutip media setempat.
Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memang telah berlangsung lama. Namun kombinasi serangan langsung, jatuhnya korban sipil, serta ancaman terhadap jalur energi dunia membuat situasi kali ini dinilai lebih sensitif dibanding sebelumnya.
Dunia internasional kini menunggu kejelasan sikap resmi dari seluruh pihak serta langkah-langkah diplomasi guna mencegah eskalasi lebih jauh.












