Bima Arya: Humas Pemerintah Harus Bangun Kepercayaan
NASIONAL

Bima Arya: Humas Pemerintah Harus Bangun Kepercayaan dan Perkuat Komunikasi dengan Publik

×

Bima Arya: Humas Pemerintah Harus Bangun Kepercayaan dan Perkuat Komunikasi dengan Publik

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto saat menjadi pembicara kunci dan memberikan arahan dalam Rakorbangpus dalam rangka penyusunan RKP Tahun 2027. (Puspen Kemendagri)

SURAKARTA – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa hubungan masyarakat (humas) memiliki posisi strategis dalam membangun komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Peran tersebut tidak sebatas menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan arah kebijakan, tujuan program, dan manfaat pembangunan dapat dipahami oleh publik secara luas.

Pernyataan itu disampaikan Bima saat menjadi pembicara dalam Konvensi Humas Indonesia Surakarta 2026 yang berlangsung di Sumaryo Grand Ballroom, The Sunan Hotel Solo, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (17/10/2026). Dalam forum tersebut, ia menyoroti pentingnya kemampuan institusi pemerintah untuk menjaga keterhubungan dengan realitas sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

“Tantangan terbesar hari ini adalah bagaimana government related dengan society. Itu kuncinya. Bagaimana kita semua selalu connected dengan realita yang ada di masyarakat,” ujar Bima.

Dalam konvensi bertema Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia tersebut, Bima menjelaskan bahwa komunikasi pemerintahan harus berangkat dari pemahaman terhadap kebutuhan, persoalan, dan aspirasi masyarakat. Dengan demikian, penyampaian informasi mengenai kebijakan publik tidak berhenti pada penyebaran pesan, tetapi juga mampu menjelaskan relevansi program pemerintah terhadap kehidupan masyarakat.

Menurutnya, strategi komunikasi yang efektif membutuhkan keterlibatan publik melalui interaksi yang berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi digital perlu diimbangi dengan dialog secara langsung agar pemerintah memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kondisi sosial dan aspirasi warga.

Bima menilai, komunikasi dua arah dapat memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat sekaligus membuka ruang bagi penyampaian masukan terhadap pelaksanaan kebijakan. Karena itu, insan humas perlu mengembangkan jejaring komunikasi melalui berbagai saluran, tanpa hanya mengandalkan platform digital.

“Bagaimana caranya? Dialog, komunikasi, silaturahmi, networking, jejaring, dan lain-lain. Karena dunia ini tidak hanya selebar layar gadget kita,” kata Bima.

Kepercayaan Publik Harus Dibangun melalui Keteladanan

Selain menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka, Bima menempatkan kepercayaan masyarakat sebagai unsur mendasar dalam penyelenggaraan kehumasan. Menurutnya, kredibilitas pemerintah terbentuk melalui konsistensi nilai, integritas, dan kesesuaian antara pernyataan yang disampaikan dengan tindakan nyata.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi publik yang meyakinkan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menyusun pesan. Pesan tersebut harus didukung oleh perilaku dan keputusan yang mencerminkan komitmen terhadap nilai-nilai yang disampaikan kepada masyarakat.

“Trust adalah konsistensi. Trust adalah value. Trust adalah artikulasi. Trust adalah leading by example,” tegas Bima.

Pandangan tersebut menempatkan keteladanan sebagai bagian penting dari strategi membangun reputasi institusi. Pemerintah dan para pejabat publik perlu menunjukkan konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab agar kepercayaan masyarakat dapat tumbuh dan terpelihara dalam jangka panjang.

Narasi Kebangsaan Perlu Diperkuat dengan Kisah Inspiratif

Bima juga mengajak insan humas untuk mengembangkan narasi kebangsaan yang berangkat dari kisah inspiratif serta keteladanan tokoh-tokoh bangsa dari berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, cerita mengenai kontribusi dan perjuangan para tokoh dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas nasional sekaligus menumbuhkan semangat persatuan.

Narasi kebangsaan, lanjutnya, perlu disampaikan melalui pesan yang memiliki makna dan mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat melampaui komunikasi yang bersifat seremonial atau retoris semata.

“Itulah narasi kebangsaan yang kita hidupkan. Bukan hanya retorika semata, tapi inspirasi yang tidak pernah henti,” pungkasnya.

Melalui forum Konvensi Humas Indonesia 2026, pesan Bima menegaskan pentingnya peran komunikasi publik dalam mendukung hubungan yang lebih kuat antara pemerintah dan masyarakat. Penguatan dialog, konsistensi tindakan, serta penyampaian kisah inspiratif menjadi pendekatan yang dapat mendukung terbentuknya kepercayaan publik dan memperkuat semangat kebangsaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *